Antara Kabut Telomoyo dan Candi Gedong Songo: Sebuah Catatan Perjalanan
Sarkawi B. Husain, pengajar di Departemen Ilmu Sejarah, FIB, Universitas Airlangga dan penulis buku Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan--
Penamaan Gedong Songo atau sembilan bangunan didasarkan atas cerita rakyat yang menceritakan berdirinya candi tersebut di lembah atau lereng Gunung Ungaran.
Saat ini terdapat lima candi yang tersisa dan terletak pada ketinggian yang berbeda-beda, dimulai dari Candi Gedong 1 sampai dengan 5 yang berada pada lokasi paling tinggi.
Di atas Candi Gedong 5 diduga masih terdapat reruntuhan bebatuan yang dahulu diduga merupakan bangunan candi.
Sementara itu, dalam catatan pada pilar 2, disebutkan bahwa Candi Gedong Songo kali pertama ditemukan dan dicatat tahun 1740-an oleh Loten pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Selanjutnya, pada 1804 Engothard melaporkan keberadaan candi tersebut kepada Thomas Stamford Raffles sebagai Banyukuning yang dalam buku The History of Java (1871) disebut sebagai Candi Gedong Pitoe. Pada 1928–1929, pemerintah kolonial Belanda melalui Dinas Purbakala (Outheidkundige Dients) memulai pemugaran Candi Gedong I.

PENBGUNJUNG sedang berada di Candi Gedong Songo 1.-Sarkawi B. Husain untuk Harian Disway-
Selanjutnya, pemugaran Candi Gedong II pada tahun 1930–1931 dan dilanjutkan dengan III, IV, dan V tahun 1977–1982 oleh pemerintah Indonesia melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP ) Jawa Tengah.
Candi Gedong Songo atau biasa disebut dengan Candi Gedong I berbentuk persegi panjang dengan ketinggian antara 4 hingga 5 meter dan berdiri di atas sebuah batu setingg 1 meter dengan dinding luar yang dihiasi dengan relief sulur dan pahatan bunga.
Di dalam candi terdapat ruang sempit yang berisi yoni tanpa lingga. Yoni merupakan simbol kejantanan dan kesuburan. Sayang sekali, puncak candi terlihat sudah rusak yang mungkin saja disebabkan alam. Adapun fungsinya diperkirakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa Hindu.
Catatan Kecil
Ketika berada di puncak Gunung Telomoyo, kita seperti diapit oleh beberapa gunung lainnya. Wilayah Jawa Tengah dianugerahi Sang Pencipta dengan lanskap alami yang indah. Tebaran gunungnya seperti ditata sedemikian rupa oleh Sang Pencipta, yang menciptakan pemandangan yang menakjubkan.
Hal yang sama terlihat pada kawasan Candi Gedong Songo yang terletak di ketinggian sekitar 1.208 di atas permukaan laut.
Akan tetapi, hal-hal kecil seperti sampah yang berserakan di puncak Telomoyo atau banyaknya penjual makanan dan minuman di kawasan candi perlu mendapat perhatian agar tidak mengganggu pengunjung.
Jalur dan jip yang mengantar pengunjung ke puncak tentu juga perlu mendapat perhatian serius agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan keselamatan pengunjung.
Jika keindahan lanskap tersebut dipadu dengan ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai dan sikap pengunjung yang menghormati alam (dengan tidak membuang sampah sembarangan misalnya), pengalaman mengunjungi negeri di atas awan puncak Telomoyo dan menyelami napas religi di Candi Gedong Songo akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga! (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: