Rumah yang Kehilangan Tawa
ILUSTRASI Rumah yang Kehilangan Tawa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kemudian, 105.727 kasus disebabkan faktor ekonomi. Sisanya, antara lain, karena ditinggalkan pasangan, KDRT, judi, dan penyebab lainnya.
Pernikahan pada usia muda tidak berarti pasti gagal, tetapi sering kali pasangan belum memiliki kesiapan mental, emosional, maupun ekonomi yang memadai untuk menghadapi kompleksitas kehidupan berkeluarga.
Ironisnya, kita lebih sibuk mempersiapkan pesta pernikahan daripada mempersiapkan kehidupan setelah pesta usai. Berbulan-bulan mengurus gedung, dekorasi, katering, dan dokumentasi.
Namun, hanya sedikit waktu digunakan untuk belajar mengelola konflik, memahami psikologis anak, menyusun perencanaan keuangan keluarga, atau mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan hidup.
Padahal, menjadi orang tua tidak sekadar melahirkan anak. Menjadi orang tua adalah menjadi tempat pulang yang paling aman. Anak tidak membutuhkan rumah terbesar, gawai terbaru, atau liburan paling mahal.
Yang mereka butuhkan adalah pelukan ketika takut, telinga yang mau mendengar, dan orang tua yang bertanggung jawab, salah satunya adalah yang mampu memisahkan persoalan hidupnya dari dunia anak-anak.
Sudah saatnya pendidikan pranikah tidak lagi dipandang sebagai formalitas administrasi. Materinya harus menyentuh kesehatan mental, literasi finansial keluarga, komunikasi pasangan, hingga ilmu pengasuhan.
Bahkan, setelah menikah, pasangan muda seharusnya tetap mendapatkan ruang belajar dan pendampingan. Sebab, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah ijab kabul selesai diucapkan.
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka mungkin lupa nasihat orang tuanya, tetapi mereka tidak pernah lupa bagaimana ayah dan ibunya saling memperlakukan. Mereka belajar mencintai dari cara orang tuanya saling mencintai.
Mereka belajar marah dari cara orang tuanya meluapkan emosi. Mereka belajar menghargai dari cara mereka dihargai.
Karena itu, keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya diukur dari seberapa tinggi penghasilannya, tetapi juga dari seberapa sering tawa anak terdengar di dalam rumah. Sebab, rumah yang dipenuhi kasih sayang akan melahirkan generasi yang sehat.
Sebaliknya, rumah yang dipenuhi amarah hanya akan mewariskan luka dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak bukan tempat membuang penat. Mereka adalah alasan mengapa orang tua harus belajar menjadi pribadi yang lebih matang. Sebab, setiap kata yang keluar dari mulut orang tua hari ini bisa menjadi suara yang terus bergema di kepala anak hingga puluhan tahun kemudian. (*)
*) Heraldha Savira adalah psikolog klinis dan anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: