Rumah yang Kehilangan Tawa

Rumah yang Kehilangan Tawa

ILUSTRASI Rumah yang Kehilangan Tawa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

ANAK-ANAK tidak pernah meminta dilahirkan. Mereka juga tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi ayah dan ibunya. Namun, mereka sering menjadi pihak yang paling menanggung akibat dari persoalan yang diciptakan orang dewasa.

Belakangan ini, kerap ditemukan di media sosial beberapa konten berisi berita kekerasan anak dalam keluarga, baik secara fisik maupun psikis. Video-video itu viral beberapa hari, mendapat kecaman sosial, lalu hilang ditelan algoritma. 

Namun, bagi anak yang bersangkutan, pengalaman tersebut tidak pernah benar-benar hilang. Ia terngiang terus-menerus dalam ingatan dan perlahan membentuk cara mereka memandang dunia.

Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Tekanan ekonomi menjadi salah satu pemicu terbesar. Harga kebutuhan hidup terus meningkat, lapangan kerja makin kompetitif, sedangkan tuntutan sosial tidak pernah berhenti. 

BACA JUGA:Refleksi Harganas 2026: Menjemput Ayah yang Hilang di Rumah Sendiri

BACA JUGA:Mengungsi dari Rumah Sendiri

Orang tua bekerja lebih lama, pulang lebih lelah, tetapi belum tentu membawa ketenangan. Ketika emosi tak lagi terkendali, anak sering menjadi pelampiasan yang paling mudah. Mereka tidak membantah, tidak melawan, dan selalu ada di rumah.

Padahal, persoalannya bukan semata soal ekonomi. Banyak keluarga sederhana mampu membesarkan anak-anak yang bahagia. Sebaliknya, tidak sedikit keluarga berkecukupan justru dipenuhi ketegangan. Akar persoalannya adalah kemampuan mengelola tekanan hidup dan emosi.

UNICEF menegaskan bahwa kesehatan mental orang tua berperan besar terhadap kesehatan mental anak. Pengasuhan yang hangat, penuh kasih, dan konsisten menjadi fondasi penting agar anak tumbuh sehat secara emosional. 

Sebaliknya, lingkungan rumah yang dipenuhi konflik membuat anak lebih rentan mengalami kecemasan, stres, hingga gangguan perkembangan sosial.

Data UNICEF juga menunjukkan bahwa secara global sekitar dua dari tiga anak masih mengalami bentuk disiplin yang bersifat keras. Baik berupa hukuman fisik maupun kekerasan verbal dari pengasuhnya. 

Fakta itu menunjukkan bahwa kekerasan dalam pengasuhan masih dianggap sebagai cara mendidik di banyak keluarga, padahal berbagai penelitian membuktikan dampaknya justru merusak perkembangan anak.

Di Indonesia, tantangannya tidak ringan. Data BPS menyatakan, sepanjang 2025 ada 438.168 kasus perceraian. Dari jumlah itu, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan angka perceraian tertinggi, yakni sekitar 83.208 kasus perceraian.

Dari total angka perceraian tersebut, sekitar 282.326 kasus atau 64,4 persen disebabkan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: