Refleksi Harganas 2026: Menjemput Ayah yang Hilang di Rumah Sendiri
Ilustrasi Refleksi Hari Keluarga Nasional 2026: Ayah Wajib Hadir-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Banyak anak terbiasa melihat ayahnya setiap hari di rumah. Bertemu di meja makan saat pagi, atau berpapasan di ruang tengah menjelang malam. Sialnya, di balik kedekatan fisik itu, sang anak justru merasa asing, seolah tumbuh dan besar tanpa sosok seorang ayah.
Inilah potret buram keluarga modern. Sepulang kerja, ayah memang duduk di ruang keluarga, pasrah di sofa. Sayangnya, perhatiannya tersedot sepenuhnya oleh layar ponsel, dan ia hanya menjawab pertanyaan anak seadanya. Secara fisik dia ada di sana, batinnya entah ke mana.
Makanya, tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026, “Ayah Wajib Hadir”, rasanya sangat menampar kita semua. Pesan itu seharusnya sudah keluar dari sekadar jargon di spanduk jalanan. Gaungnya harus masuk ke ruang tamu, menghidupkan meja makan, dan mengalir dalam obrolan jujur antara ayah dan anak.
Tumbuh kembang anak jelas tidak bisa dibebankan kepada ibu sendirian. Anak rindu ayahnya ikut terlibat menyelami dunia mereka.
Selama ini, kita telanjur mengunci peran orang tua dalam kotak kaku: ayah mencari uang, ibu mengurus rumah. Walaupun sekarang mulai ada pergeseran kesadaran bahwa porsi keterlibatan ayah harus naik kelas, perjalanannya masih panjang.
BACA JUGA:Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang
BACA JUGA:Catatan dari Saresehan Kebangsaan KSTI 2026 (4): Menakar Peta Jalan dan Agenda Riset 2026
Banyak riset psikologi menegaskan betapa krusialnya figur ayah dalam membentuk karakter, merangsang kemampuan bahasa awal, menjaga stabilitas emosi, hingga membentengi anak dari dampak buruk fenomena fatherless (kehilangan figur ayah).
Secara ilmiah, kehadiran seorang ayah yang utuh bisa kita lihat dari tiga hal:
Pertama, keterlibatan emosional (paternal engagement).
Ini soal bagaimana seorang ayah membangun ikatan rasa dengan anaknya. Ayah yang benar-benar terlibat mau meluangkan waktu untuk mendengarkan, merespons, dan peduli. Ayah peka saat anaknya sedang takut, kecewa, marah, bingung, atau sedang bahagia.
Kedekatan batin begini tidak akan pernah bisa disuap dengan uang jajan berlebih atau tumpukan mainan mahal. Kalimat pembelaan diri seperti, “Ayah sibuk kerja ini kan buat masa depan kamu,” rasanya sudah kuno. Anak memang butuh kebutuhannya dicukupi, cuma mereka jauh lebih butuh tatapan mata langsung, obrolan dua arah, dan kepastian bahwa mereka penting di mata ayahnya.
Kedua, ketersediaan sosok ayah (paternal accessibility).
Artinya, anak tahu dan yakin bahwa ayahnya bisa diajak bicara kapan saja. Ayah menjadi tempat pertama yang aman buat mengadu, meminta bantuan, atau sekadar bertanya saat mereka bingung menghadapi masalah.
Kuantitas waktu bersama tak harus berjam-jam. Terkadang, lima belas menit sehari sudah cukup, asalkan dilakukan dengan sepenuh hati. Fokus total tanpa melirik gawai, tanpa jawaban ketus, tanpa langsung menghakimi. Kehadiran yang utuh ini memberi ruang aman bagi anak untuk merasa bahwa mereka tidak sendirian menghadapi dunia.
BACA JUGA:Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama
Keempat, tanggung jawab pengasuhan (paternal responsibility).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: