Mengasuh Remaja yang Tinggal di Dalam Layar

Mengasuh Remaja yang Tinggal di Dalam Layar

Menakar pola asuh otoritatif demi memenangkan kembali hati anak remaja di ruang digital. -Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dahulu, orang tua acapkali menunggu anaknya pulang sekolah di depan pintu. Sekarang, ketika anak sudah pulang, sepatunya sudah dilepas dan tasnya sudah ditaruh, orang tua mengawal pikiran anak yang masih tertinggal di layar. Di grup teman. Di komentar TikTok. Di game online. Di pesan yang belum dibalas. Di unggahan yang membuatnya merasa kurang cantik, kurang keren, kurang diterima.

Akibatnya, rumah hanya menjadi tempat anak tidur. Tetapi bukan menjadi tempat anak pulang secara batin.

Inilah tantangan pengasuhan remaja hari ini. Orang tua tidak lagi hanya mengasuh anak di ruang makan, ruang belajar, atau halaman rumah. Orang tua juga harus mengasuh anak di ruang digital. Ruang yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat memengaruhi cara remaja berpikir, merasa, dan menilai dirinya.

Secara sederhana, pengasuhan (parenting) adalah proses orang tua merawat, membimbing, mengarahkan, memberi batas, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan anak agar ia tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mandiri, dan bertanggung jawab.

Pengasuhan bukan hanya memberi makan, membayar sekolah, atau memastikan anak selamat secara fisik. Pengasuhan juga berarti hadir dalam proses batin anak: mendengar kegelisahannya, memahami dunianya, dan menolongnya mengambil keputusan.

Pada masa remaja, tugas pengasuhan menjadi lebih rumit. Remaja bukan lagi anak kecil yang sepenuhnya bisa diarahkan. Tetapi ia juga belum dewasa penuh yang selalu mampu menimbang risiko. Di satu sisi, remaja ingin dipercaya. Di sisi lain, ia masih membutuhkan pagar. Masalahnya, pagar itu kini harus dipasang di dunia yang tidak kasatmat yaitu dunia digital.

Banyak orang tua masih memakai cara lama. Kalau anak terlalu sering memegang HP, langsung dimarahi. Kalau nilai turun, HP disita. Kalau anak mengunci kamar, dicurigai. Kalau anak diam, dianggap membangkang. Dan hal ini sering kita jumpai pada orang tua saat ini.

BACA JUGA:Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?

BACA JUGA:Efek Psikologi Massa: Saat Kata ‘Artikulasi’ Bikin Satu Negara Kompakan Jengkel

Padahal, bagi remaja, gawai bukan sekadar alat hiburan. Gawai adalah ruang pergaulan. Ruang ekspresi. Ruang pencarian identitas. Di sana mereka mencari teman, pengakuan, hiburan, pelarian, bahkan tempat curhat. 

Karena itu, model pengasuhan yang paling tepat di era digital bukan pengasuhan otoriter. Bukan pula pengasuhan permisif (laissez-faire). Pengasuhan otoriter terlalu banyak larangan, tetapi miskin dialog. Anak patuh di depan, tetapi sembunyi di belakang. Sebaliknya, pengasuhan permisif terlalu longgar. Anak diberi kebebasan besar, tetapi tidak dibekali kompas moral dan kemampuan menimbang risiko.

Model yang lebih sesuai adalah pengasuhan demokratis / otoritatif. Dalam psikologi perkembangan, model ini dikenal sebagai pengasuhan yang menggabungkan kehangatan dan ketegasan. Orang tua hadir secara emosional, tetapi tetap memberi aturan. Anak didengar, tetapi tidak dibiarkan berjalan tanpa batas. Ada cinta, ada disiplin. Ada dialog, ada konsekuensi.

Dalam konteks digital, pengasuhan otoritatif berarti orang tua tidak hanya berkata, “Jangan main HP terus.” Orang tua juga menjelaskan mengapa tidur penting, mengapa konten tertentu berbahaya, mengapa data pribadi tidak boleh dibagikan, mengapa komentar kasar bisa melukai orang lain, dan mengapa validasi dari media sosial tidak boleh menjadi ukuran harga diri.

Di sinilah pentingnya pendampingan aktif. Orang tua perlu sesekali bertanya, “Hari ini kamu melihat apa di internet?” “Ada yang membuatmu tidak nyaman?” “Ada teman yang mengejekmu di grup?” “Ada konten yang membuatmu kepikiran?” Pertanyaan seperti itu sederhana. Tetapi bagi remaja, itu bisa menjadi pintu pulang.

Pengasuhan digital yang sehat juga tidak cukup dengan kontrol teknis. Aplikasi pembatas waktu, parental control, atau pengaturan privasi memang berguna. Tetapi teknologi tidak boleh menggantikan percakapan. Sebab masalah utama remaja tidak selalu karena ia terlalu lama memegang HP. Kadang masalahnya adalah ia merasa lebih dipahami oleh layar daripada oleh orang rumah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: