Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?
ILUSTRASI Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PENDIDIKAN selalu disebut sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Di tangan para guru, masa depan generasi muda dibentuk, diarahkan, dan dipersiapkan menghadapi tantangan zaman.
Ironisnya, di tengah tuntutan besar terhadap kualitas pendidikan nasional, masih banyak tenaga pendidik yang justru hidup dalam ketidakpastian. Salah satu isu yang kini menjadi sorotan adalah rencana pemerintah menghapus status guru honorer.
Kebijakan tersebut memang lahir dari semangat penataan birokrasi dan reformasi sistem kepegawaian. Pemerintah ingin menciptakan tata kelola tenaga kerja yang lebih tertib, profesional, dan terukur.
Dari sisi regulasi, langkah itu dapat dipahami sebagai upaya memperjelas status kerja tenaga pendidik sekaligus mengurangi praktik pengangkatan honorer yang selama ini dianggap tidak terkontrol. Namun, persoalannya, pendidikan tidak hanya bicara soal administrasi dan aturan.
BACA JUGA:Efek Psikologi Massa: Saat Kata ‘Artikulasi’ Bikin Satu Negara Kompakan Jengkel
BACA JUGA:Membaca Psikologi Politik di Balik Manuver Global Trump
Pendidikan adalah ruang yang sangat dipengaruhi kondisi psikologis manusia. Guru bukan mesin birokrasi yang cukup diatur lewat regulasi. Mereka adalah manusia yang membutuhkan rasa aman, penghargaan, dan kepastian masa depan.
Di sinilah letak persoalan besar yang sering kali luput dalam perumusan kebijakan. Negara terlalu fokus pada aspek regulasi, tetapi kurang memperhatikan dampak psikologis terhadap para tenaga pendidik yang selama bertahun-tahun mengabdi di sekolah-sekolah.
Bagi sebagian guru honorer, kabar penghapusan status honorer bukan sekadar perubahan administratif. Kebijakan itu menjadi ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka. Banyak di antara mereka telah mengajar belasan, bahkan puluhan, tahun dengan penghasilan minim. Mereka berharap suatu saat memperoleh kepastian status dan kesejahteraan yang lebih baik.
Ketika pengabdian panjang itu justru dihadapkan pada ketidakjelasan, rasa kecewa dan kecemasan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Kondisi psikologis guru yang terganggu tentu akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan.
BACA JUGA:BAPT, Himpsi, dan Negara: Arsitektur Baru Pengelolaan Profesi Psikologi
BACA JUGA:Pilkada dan Komitmen Kedewasaan Psikologis Demokrasi
Guru Butuh Ketenangan Psikologi
Guru –yang dibayangi rasa cemas tentang pekerjaan dan masa depan– sulit untuk mengajar secara optimal. Fokus mereka terpecah antara tanggung jawab mendidik siswa dan kekhawatiran mengenai nasib pribadi dan keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: