Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?

Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?

ILUSTRASI Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Pemerintah sebenarnya dapat mengambil jalan tengah yang lebih bijak. Misalnya, mempercepat mekanisme pengangkatan guru honorer yang telah lama mengabdi melalui skema yang adil dan transparan. Selain itu, proses transisi kebijakan perlu dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan kepanikan massal.

Komunikasi yang Tepat 

Komunikasi publik juga harus diperbaiki. Banyak guru honorer merasa resah karena informasi yang mereka terima sering kali tidak jelas dan berubah-ubah. Ketidakpastian itulah yang memicu tekanan psikologis berkepanjangan. 

Pemerintah perlu hadir memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus memastikan bahwa para guru tetap mendapatkan perlindungan. Lebih dari itu, penghargaan terhadap pengabdian guru honorer harus menjadi perhatian utama. 

Mereka telah membantu negara menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Pengabdian panjang tersebut tidak boleh dianggap sekadar angka dalam data kepegawaian.

ada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal kurikulum, gedung sekolah, atau regulasi birokrasi. Pendidikan adalah tentang manusia. Dan, dalam konteks ini, guru merupakan aktor utama yang menentukan kualitas generasi masa depan.

Karena itu, pemerintah harus benar-benar menjaga keseimbangan antara kebijakan administratif dan kondisi psikologis tenaga pendidik. Regulasi yang baik adalah regulasi yang tidak hanya tertib secara hukum, tetapi juga mampu menghadirkan rasa keadilan dan ketenangan bagi mereka yang menjalankannya.

Jika guru merasa aman, dihargai, dan tenang, kreativitas serta inovasi dalam pembelajaran akan tumbuh. Pada akhirnya, siswa yang akan merasakan manfaat terbesar. 

Sebaliknya, jika guru terus dibayangi kecemasan, pendidikan nasional akan berjalan tanpa jiwa. Di tengah semangat reformasi birokrasi, pemerintah perlu mengingat satu hal penting. Masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi juga oleh ketenangan hati para guru yang setiap hari berdiri di depan kelas. (*)

*) Heraldha Savira, psikolog klinis dan anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: