Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?
ILUSTRASI Antara Regulasi dan Psikologi Tenaga Pendidik, Mana yang Lebih Penting?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Padahal, dalam dunia pendidikan modern, kualitas proses belajar mengajar sangat dipengaruhi kondisi emosional tenaga pendidik. Guru yang tenang secara psikologis akan lebih kreatif dalam menyusun metode pembelajaran.
Mereka lebih inovatif menghadirkan suasana kelas yang menyenangkan. Sebaliknya, guru yang merasa tidak aman cenderung kehilangan semangat, mudah lelah secara mental, dan sekadar menjalankan rutinitas.
Akibatnya, output pendidikan ikut terdampak. Siswa tidak lagi mendapatkan pembelajaran yang inspiratif. Sekolah kehilangan energi positif dari para guru yang sebelumnya memiliki dedikasi tinggi.
BACA JUGA:Psikologi untuk Keadilan: Menyatukan Nalar, Nurani, dan Negara
BACA JUGA:Menengok Barak Militer Ala Dedi Mulyadi dari Sudut Pandang Psikologi Pendidikan
Dalam jangka panjang, kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa ikut menurun.
Ironisnya, guru honorer selama ini justru menjadi tulang punggung pendidikan di banyak daerah. Tidak sedikit sekolah negeri, terutama di wilayah terpencil, sangat bergantung pada keberadaan mereka.
Bahkan, ada sekolah yang jumlah guru honorer lebih banyak jika dibandingkan dengan aparatur sipil negara (ASN). Jika kebijakan penghapusan honorer dilakukan tanpa solusi yang matang, sekolah-sekolah tersebut berpotensi mengalami kekurangan tenaga pengajar.
Di sisi lain, pemerintah memang memiliki alasan kuat melakukan penataan sistem kepegawaian. Selama bertahun-tahun, mekanisme perekrutan honorer dianggap tidak sehat karena banyak daerah mengangkat tenaga honorer tanpa perencanaan kebutuhan yang jelas.
Beban anggaran pun makin besar. Negara tentu tidak ingin persoalan itu terus berlarut.
Karena itu, yang dibutuhkan sebenarnya bukan pertentangan antara regulasi dan psikologi tenaga pendidik. Keduanya sama-sama penting dan tidak boleh dipisahkan.
Kebijakan yang Harus Bijak
Regulasi diperlukan untuk menciptakan sistem yang tertib dan berkelanjutan. Namun, regulasi juga harus dibangun dengan pendekatan manusiawi.
Kebijakan pendidikan seharusnya tidak hanya berbasis angka dan administrasi, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan psikologis di lapangan. Pemerintah perlu memahami bahwa stabilitas mental guru merupakan bagian penting dari keberhasilan pendidikan nasional.
Jangan sampai negara berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, tetapi pada saat yang sama justru menciptakan ketidaktenangan bagi para guru. Sebab, pendidikan yang baik lahir dari ruang belajar yang sehat, dan ruang belajar yang sehat hanya dapat tercipta ketika guru merasa dihargai serta memiliki kepastian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: