Tsunami Digital: Saat Anak Lebih Cepat Tahu daripada Orang Tuanya

Tsunami Digital: Saat Anak Lebih Cepat Tahu daripada Orang Tuanya

Saat anak lebih pintar dari gawai tapi orang tua kehilangan pintu masuk. Jangan telat sadar!-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dulu, orang tua sering mengkhawatirkan bahwa anaknya kekurangan informasi. Tidak tahu berita. Tidak tahu perkembangan. Tidak tahu dunia luar. Sekarang kekhawatiran tersebut berbalik.

Anak-anak justru terlalu cepat tahu banyak hal. Kadang lebih cepat daripada orang tuanya. Mereka tahu istilah baru lebih dulu. Tahu tren lebih cepat. Tahu aplikasi yang orang tua bahkan belum sempat dengar namanya. Mereka bisa mencari jawaban hanya dalam hitungan detik.

Mereka bisa menonton apa saja, mengikuti siapa saja, dan masuk ke ruang percakapan yang tidak selalu dipahami oleh orang dewasa.

Sementara itu, banyak orang tua masih tertinggal beberapa langkah karena perkembangan teknologi memang berlari terlalu cepat.

Saat orang tua baru memahami satu platform, anak sudah berpindah ke platform lain. Saat orang tua baru mengerti satu istilah, anak sudah memakai istilah berikutnya. Saat orang tua merasa sudah mengawasi, anak ternyata sudah menemukan ruang digital lain yang jauh lebih sulit dijangkau. 

Di sinilah pendidikan anak hari ini menghadapi tantangan baru.

Anak tidak lagi hanya belajar dari rumah dan sekolah, melainkan anak juga belajar dari layar Hp ataupun PC, dari algoritma, dari video pendek, dari influencer, dari nitizen, dari beragam informasi yang datang terus-menerus, tanpa jeda, dan tidak selalu jelas benar-salahnya. 

BACA JUGA:Haji Ilegal: Jalan Pintas yang Berujung Petaka, Negara Harus Tegas dan Tuntas

BACA JUGA:Denda KTP dan Fotokopi yang Abadi

Pertanyaannya menjadi serius: siapa sebenarnya yang paling banyak mendidik anak-anak kita hari ini? Orang tua? Guru? Lingkungan? Atau algoritma?

Tentu tidak adil kalau teknologi langsung dianggap musuh. Banyak anak belajar hal baik dari internet. Mereka bisa belajar bahasa asing, musik, desain, sains, sejarah, bahkan keterampilan hidup. Banyak anak juga menemukan inspirasi dan ruang ekspresi melalui teknologi. 

Masalahnya, dunia digital tidak hanya membawa ilmu. Ia juga membawa kebisingan. Ada pengetahuan, tetapi ada pula hoaks. Ada inspirasi, tetapi ada juga provokasi. Ada hiburan, tetapi ada pula kekerasan simbolik. Ada edukasi, tetapi ada pula konten yang membuat anak dewasa terlalu cepat sebelum waktunya.

Anak-anak memang cepat menangkap informasi. Tetapi belum tentu matang dalam memaknainya. Mereka bisa tahu lebih dulu, tetapi belum tentu mengerti lebih dalam. Mereka bisa menjawab cepat, tetapi belum tentu mampu menimbang akibatnya. 

BACA JUGA:Guru untuk Gen Z: Saatnya Profesi Mulia Dihargai dengan Nyata

BACA JUGA:Dari Lahan Kosong ke Ruang Sosial: Urban Farming sebagai Strategi Ketahanan Pangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: