Tsunami Digital: Saat Anak Lebih Cepat Tahu daripada Orang Tuanya

Tsunami Digital: Saat Anak Lebih Cepat Tahu daripada Orang Tuanya

Saat anak lebih pintar dari gawai tapi orang tua kehilangan pintu masuk. Jangan telat sadar!-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Karena itu, pola asuh lama tidak lagi cukup.

Parenting yang hanya berbasis larangan akan cepat kehilangan daya. “Jangan main HP.” “Jangan buka itu.” “Jangan ikut-ikutan.” Kalimat-kalimat seperti itu kadang tetap perlu. Tetapi kalau hanya melarang, efeknya anak akan belajar menyembunyikan, tidak berhenti memakai teknologi dan efek lebih lanjutnya ia akan berhenti bercerita tentang apapun dan juga akan tertutup kepada orang tuanya.

Sebaliknya, parenting yang terlalu membebaskan juga berbahaya. Anak dibiarkan sendiri dengan alasan zaman sudah berubah. Orang tua merasa yang penting anak diam, tenang, dan tidak mengganggu. Tanpa sadar, layar menjadi pengasuh kedua. Bahkan dalam beberapa keluarga, layar menjadi pengasuh utama.

Model yang lebih sesuai untuk zaman digital adalah parenting pendampingan kritis. Dalam literatur, konsep ini dekat dengan active parental mediation, yaitu pola ketika orang tua tidak sekadar membatasi layar, tetapi aktif berdialog, menemani, menjelaskan, dan melatih anak menilai informasi. Anak tidak hanya ditanya berapa lama bermain gawai, tetapi juga diajak membahas apa yang dilihat, siapa sumbernya, apakah benar, apakah bermanfaat, dan apa dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain. 

Kedengarannya sederhana. Tetapi justru di situ kuncinya.

Anak yang dekat dengan orang tua akan lebih mudah bercerita. Anak yang tidak takut dihakimi akan lebih berani bertanya. Anak yang terbiasa diajak berdialog akan lebih siap memilah informasi. Sebaliknya, anak yang setiap ceritanya disambut marah akan memilih diam. Dan ketika anak sudah diam, orang tua kehilangan pintu masuk.

Langkah pertama orang tua adalah hadir. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir secara emosional. Anak tidak cukup diberi gawai. Ia perlu ditemani memahami dunia yang masuk melalui gawai itu.

Langkah kedua, orang tua perlu membangun percakapan kecil di rumah. Tidak perlu seperti seminar. Bisa saat makan, saat menonton bersama, atau ketika anak menunjukkan sesuatu dari media sosial. Dari situ anak bisa dilatih bertanya: sumbernya siapa? Apakah ini fakta atau opini? Apakah ini pantas ditiru? Apakah ini menyakiti orang lain?

Langkah ketiga, orang tua harus menjadi teladan digital. Ini sering paling sulit. Orang tua meminta anak tidak kecanduan layar, tetapi dirinya sendiri tidak lepas dari ponsel. Orang tua meminta anak sopan bermedia sosial, tetapi dirinya mudah marah di grup percakapan. Anak-anak lebih kuat meniru perilaku daripada mendengar nasihat.

Namun, tanggung jawab ini tidak bisa hanya diletakkan di pundak orang tua.

Sekolah juga harus ikut berubah. Literasi digital tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan memakai perangkat. Anak-anak tidak cukup diajari cara menggunakan teknologi. Mereka harus diajari cara berpikir di tengah teknologi. 

Sekolah perlu melatih siswa membedakan informasi benar dan palsu, mengenali manipulasi konten, memahami jejak digital, serta membangun etika berkomunikasi. Pendidikan karakter hari ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku digital. Sebab sebagian besar kehidupan sosial anak sudah berpindah ke ruang maya. 

Lingkungan terdekat juga penting. Keluarga besar, tetangga, komunitas, tempat ibadah, dan ruang publik harus ikut menjaga suasana. Jangan sampai anak diajari sopan di rumah, tetapi melihat orang dewasa saling menghina di media sosial. Jangan sampai anak diajari jujur, tetapi melihat orang dewasa mudah menyebarkan kabar yang belum jelas.

Anak-anak hari ini memang lebih cepat tahu daripada orang tuanya. Tetapi cepat tahu tidak sama dengan siap. Mereka tetap membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, mendampingi, dan memberi arah.

BACA JUGA:Menimbang Ulang Relevansi Prodi: Antara Kebutuhan Industri dan Masa Depan Peradaban

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: