Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama

Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama

ILUSTRASI Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DEMOKRASI adalah ruang yang memungkinkan setiap warga negara menyampaikan gagasan, harapan, bahkan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Dalam ruang itulah, lahir berbagai perubahan yang membawa bangsa ini terus bertumbuh. 

Karena itu, demokrasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kekuatan yang menjaga kehidupan berbangsa tetap dinamis dan sehat.

Namun, demokrasi tidak hanya berbicara tentang kebebasan. Demokrasi juga berbicara tentang tanggung jawab. Hak untuk menyampaikan aspirasi selalu berjalan beriringan dengan kewajiban menghormati hak orang lain, menjaga ketertiban umum, dan merawat ruang publik yang menjadi milik bersama.

Peristiwa demonstrasi pada 26 Juni 2026, yang mengakibatkan kerusakan di Gedung Grahadi, mengajak kita merenungkan kembali keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sebagai warga negara. 

BACA JUGA:Ketika Demokrasi Kehilangan Kepercayaan

BACA JUGA:Polarisasi dan Industri Kemarahan: Ketika Demokrasi Kehilangan Percakapan

Aspirasi merupakan hak konstitusional yang harus dihormati. Akan tetapi, ketika penyampaiannya meninggalkan kerusakan pada fasilitas publik, ada nilai yang patut kita renungkan bersama.

Keprihatinan tersebut terasa makin mendalam karena ingatan masyarakat Jawa Timur belum sepenuhnya lepas dari peristiwa 30 Agustus 2025, ketika Grahadi juga mengalami kerusakan akibat aksi pembakaran yang terjadi di tengah demonstrasi. 

Dua peristiwa dalam rentang waktu yang berdekatan menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan ruang dialog yang makin dewasa, bukan ruang yang meninggalkan luka.

Grahadi bukan sekadar kantor pemerintahan. Bangunan yang telah berdiri sejak akhir abad ke-18 itu merupakan cagar budaya yang memiliki arti penting bagi perjalanan sejarah Jawa Timur dan Indonesia. 

BACA JUGA:Inflasi Pengamat atau Kekeliruan Membaca Demokrasi?

BACA JUGA:Literasi Politik sebagai Lokomotif Demokrasi

Di tempat tersebut berbagai fase sejarah pernah berlangsung, mulai masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perjalanan pemerintahan di era modern. Setiap sudutnya menyimpan memori kolektif yang tidak dapat digantikan apabila hilang atau rusak.

Warisan budaya sesungguhnya bukan milik satu institusi atau satu generasi. Ia adalah titipan sejarah yang harus dijaga bersama. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: