Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama
ILUSTRASI Merawat Demokrasi, Menjaga Warisan Bersama.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ketika sebuah cagar budaya mengalami kerusakan, yang hilang bukan hanya sebagian bangunan, melainkan juga sebagian jejak sejarah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di sisi lain, demokrasi juga merupakan warisan bangsa yang tidak kalah berharganya. Demokrasi lahir dari perjuangan panjang para pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia menjadi negara yang menghargai kebebasan sekaligus menjunjung tinggi kemanusiaan.
BACA JUGA:Demokrasi Sasetan: Murah, Instan, tetapi Bikin Kembung
BACA JUGA:Menggapai Demokrasi Substansial
Oleh karena itu, merawat demokrasi tidak cukup hanya dengan memastikan setiap orang dapat bersuara, tetapi juga memastikan bahwa cara kita bersuara tidak merusak nilai-nilai yang hendak kita perjuangkan.
Dalam kearifan budaya Jawa dikenal falsafah menang tanpa ngasorake atau menang tanpa merendahkan. Nilai itu mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu diwujudkan melalui kemarahan.
Justru kemampuan mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menyampaikan pendapat secara bermartabat merupakan wujud kedewasaan yang sesungguhnya.
Masyarakat Jawa Timur telah lama dikenal memiliki tradisi gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap warisan budaya.
Nilai-nilai tersebut semestinya tetap menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai perbedaan pandangan. Sebab, kritik yang disampaikan dengan damai tidak akan kehilangan ketegasannya. Sebaliknya, ia justru memperoleh legitimasi moral yang lebih kuat.
BACA JUGA:Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
BACA JUGA:Demokrasi Santun ala Prabowo
Pada akhirnya, demokrasi dan warisan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya adalah aset bangsa yang harus dijaga secara bersamaan.
Demokrasi memberi kita ruang untuk berbicara, sedangkan warisan budaya mengingatkan kita dari mana kita berasal. Menjaga keduanya berarti menjaga identitas bangsa sekaligus memastikan generasi mendatang mewarisi Indonesia yang lebih dewasa dalam berdemokrasi.
Sebab, sejarah tidak hanya akan mencatat apa yang kita perjuangkan, tetapi juga bagaimana cara kita memperjuangkannya.
Jogo Jatim. Jogo Warisan Budaya. Jogo Demokrasi yang Bermartabat. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: