Literasi Politik sebagai Lokomotif Demokrasi
ILUSTRASI Literasi Politik sebagai Lokomotif Demokrasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SEJENAK mari pelan-pelan kita mencoba untuk flashback kembali pada sebuah momentum pelaksanaan pemilu maupun pemilihan. Sering kali pada saat penyelenggaraan pemilu maupun pemilihan, kita menjalani momentum tersebut hanya seperti melewati suatu rutinitas lima tahunan.
Kita datang ke bilik suara, mencelupkan jari ke tinta, lalu merasa telah menunaikan seluruh kewajiban sebagai warga negara. Padahal, secara tidak sadar, ada suatu hal yang sering kali luput dari kita, yakni kemampuan memahami, menimbang, dan memaknai pilihan politik secara sadar.
Di sinilah literasi politik menjadi krusial, bukan sekadar pelengkap. Melainkan, lokomotif yang menentukan ke mana demokrasi bergerak.
Literasi politik bukan hanya soal mengetahui nama partai, calon, atau jadwal pemilu maupun Pemilihan. Ia adalah kapasitas untuk membaca realitas kekuasaan, membedakan informasi dari manipulasi, dan mengelola perbedaan tanpa kehilangan akal sehat.
BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural
BACA JUGA:Perang, Pasar, dan Politik Informasi Publik
Dalam bahasa Paulo Freire, literasi adalah proses ”membaca dunia”, bukan sekadar membaca kata. Maka, literasi politik bisa dimaknai sebagai sebuah kemampuan membaca demokrasi itu sendiri tentang siapa yang diuntungkan, siapa yang dimarginalkan, dan bagaimana keputusan publik dibentuk.
BANJIR INFORMASI DAN KRISIS PEMAHAMAN
Sayangnya, demokrasi kita sering terjebak dalam euforia prosedural. Kita rajin menghitung suara, tetapi jarang menghitung kualitas pemahaman. Kita sibuk memperdebatkan hasil, tetapi abai terhadap proses berpikir yang melandasinya.
Masalahnya, di era digital seperti sekarang, arus informasi datang begitu deras. Semua orang bisa bicara, semua orang bisa menyebarkan kabar. Bukannya membuat kita makin paham, situasi itu justru sering membuat kita kian bingung.
Dalam kajian psikologi kognitif, Daniel Kahneman dalam bukunya, Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia cenderung menggunakan dua sistem berpikir, yakni cepat, intuitif, dan otomatis serta lambat, analitis, dan reflektif.
BACA JUGA:Echo Chamber Digital: Bagaimana Algoritma Memengaruhi Pandangan Politik Kita
BACA JUGA:Demonstrasi: Bahasa Politik yang Gagal Dipahami
Dalam banyak situasi, termasuk dalam menerima informasi, sistem berpikir cepat lebih dominan. Akibatnya, seseorang lebih mudah memercayai informasi yang sejalan dengan keyakinannya, tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya secara kritis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: