Perang, Pasar, dan Politik Informasi Publik

Perang, Pasar, dan Politik Informasi Publik

ILUSTRASI Perang, Pasar, dan Politik Informasi Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERANG selalu dimulai jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, dampaknya hampir selalu berakhir di sana. Ketika konflik meningkat di Timur Tengah, masyarakat Indonesia tidak mendengar suara sirene atau ledakan rudal. 

Namun, mereka merasakan konsekuensinya dalam bentuk lain: harga energi yang berfluktuasi, nilai tukar yang tertekan, dan ketidakpastian ekonomi yang perlahan merembes ke kehidupan rumah tangga.

Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran, dengan keterlibatan strategis Amerika Serikat (AS), sekali lagi mengingatkan dunia bahwa stabilitas global sangat rapuh. Konflik itu terjadi di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi jantung distribusi energi dunia. 

BACA JUGA:Pengamat: Perang AS–Israel vs Iran Masuk Tahap Perang Hibrida

BACA JUGA:5 UPDATE Perang Iran vs AS–Israel Hari ke-8, Kapal Diserang hingga WNI Hilang

Jalur pelayaran di Selat Hormuz, misalnya, merupakan salah satu titik paling sensitif dalam sistem perdagangan minyak global. Setiap gangguan di kawasan tersebut hampir selalu memicu lonjakan harga energi dan ketegangan pasar internasional.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, dinamika geopolitik itu tidak pernah benar-benar jauh. Ketika harga minyak dunia naik dan dolar menguat, tekanan terhadap rupiah segera terasa. 

Dalam ekonomi yang terhubung secara global, perubahan kecil di pasar energi internasional dapat merambat cepat ke dalam struktur biaya produksi domestik, harga pangan, hingga tarif transportasi.

BACA JUGA:Hari Ketujuh Perang, Iran Lancarkan Operasi Janji Sejati Gelombang 24

BACA JUGA:Trump Wajibkan Iran Menyerah Tanpa Syarat untuk Akhiri Perang

Dengan kata lain, perang yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia tetap memiliki konsekuensi langsung bagi kehidupan ekonomi masyarakat.

PASAR DAN SENSITIVITAS POLITIK

Pasar modern bekerja dengan logika ekspektasi. Harga tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi aktual, tetapi juga oleh perkiraan terhadap masa depan. Ketika konflik geopolitik meningkat, pelaku pasar sering bereaksi terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Ekonom pemenang Nobel Joseph Stiglitz pernah menegaskan bahwa pasar global sangat sensitif terhadap ketidakpastian politik. Dalam kondisi saat informasi tidak jelas atau tidak dipercaya, spekulasi sering menggantikan pengetahuan. Ketika spekulasi menjadi dominan, volatilitas harga pun meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: