Refleksi Harganas 2026: Menjemput Ayah yang Hilang di Rumah Sendiri

Refleksi Harganas 2026: Menjemput Ayah yang Hilang di Rumah Sendiri

Ilustrasi Refleksi Hari Keluarga Nasional 2026: Ayah Wajib Hadir-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Tanggung jawab seorang ayah melampaui urusan transferan uang bulanan. Ayah juga memegang kendali atas pendidikan, pembentukan watak, lingkaran pergaulan, batasan menggunakan gawai, kesehatan mental, sampai cara anak mengelola tekanan hidup.

Ayah harus ambil bagian dalam setiap keputusan penting. Jangan baru datang lalu marah-marah saat nilai anak turun, atau mendadak ikut campur ketika anak sudah telanjur liar. Ayah semestinya mengawal prosesnya, bukan sekadar menagih hasilnya.

Saat tiga hal ini berjalan, dampaknya bagi anak sangat luar biasa. Anak yang tumbuh dengan kehadiran ayah cenderung lebih matang mengelola emosi. Mereka belajar menghadapi masalah dengan kepala dingin, tidak reaktif, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Rasa aman karena merasa dilindungi oleh figur yang kokoh akan memupuk rasa percaya diri mereka. Mereka menjadi pribadi yang berani mencoba hal baru, tidak takut gagal, dan memiliki mental tangguh untuk bangkit lagi.

Dalam ranah sosial, kehadiran ayah mengajarkan anak tentang batasan diri, tanggung jawab, empati, serta cara menghargai orang lain. Sebaliknya, absennya figur ayah kerap menjadi akar berbagai gangguan perkembangan anak.

Satu hal yang perlu kita sadari, fatherless tidak melulu soal yatim karena kematian atau perceraian. Ayah yang fisiknya ada di rumah pun bisa memicu fenomena ini jika batinnya abai. Bentuk pengabaian halus inilah yang sering kali luput dari perhatian.

Banyak pria merasa kewajibannya tuntas setelah memeras keringat dan memenuhi semua kebutuhan materi. Mereka lupa, bagi seorang anak, ayah bukanlah sebuah mesin pencari uang, melainkan orang tua yang sesungguhnya.

Di era modern dengan mobilitas tinggi, banyak pria terjebak menjadi "orang tua paruh waktu". Biarpun begitu, keterbatasan waktu jangan sampai membuat kita menjadi ayah yang setengah hati. Jarak boleh membentang dan waktu mungkin sempit, cuma akses anak terhadap ayahnya tidak boleh tersumbat.

Kuncinya ada pada kualitas interaksi. Komunikasi lewat panggilan video (video call) tidak ada maknanya kalau pertanyaannya melulu seputar, “Sudah makan belum?” atau “Sudah belajar?” Anak membutuhkan ruang untuk dikenal secara personal.

BACA JUGA:Ketika Demokrasi Kehilangan Kepercayaan

BACA JUGA:Nilai TKA Matematika 40, Mengapa Negeri Ini Tidak Gempar?

Cobalah ganti dengan pertanyaan yang menyentuh ruang emosinya, seperti: “Apa yang paling bikin kamu senang hari ini?”, “Ada kejadian yang bikin kamu sedih, nggak?”, atau “Apa yang lagi kamu takutkan? Cerita dong sama Ayah.”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang membuka sumbat emosi anak. Lewat komunikasi yang konsisten, seorang ayah bisa memahami dunia batin anaknya, ikut memikirkan perkembangan psikologisnya, dan perlahan merajut kembali ikatan yang sempat renggang.

Bagaimanapun, pengasuhan bukanlah kompetisi antara suami dan istri, juga bukan pembagian kerja yang kaku. Pengasuhan adalah kerja tim yang panjang.

Mari jadikan Hari Keluarga Nasional tahun ini sebagai momentum untuk mengubah cara pandang kita. Ayah bukan tamu asing di rumahnya sendiri, bukan sekadar mesin ATM berjalan, dan bukan sosok menakutkan yang baru dicari saat anak berbuat salah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: