Sejarah Kudatuli: Jejak Perlawanan Pandegiling Surabaya Melawan Orde Baru

Sejarah Kudatuli: Jejak Perlawanan Pandegiling Surabaya Melawan Orde Baru

Tokoh kunci PDI Pro-Mega Jawa Timur, Ir. Sutjipto (tengah), dibantu kader saat memanjat pagar untuk mengamankan pergerakan massa di Posko Pandegiling 223, Surabaya, pasca-peristiwa Kudatuli 1996.-PDIP-PDIP

HARIAN DISWAY - Kalau mau melacak di mana rezim Orde Baru mulai goyah, jangan hanya melihat Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli) di Jakarta. Tengoklah Pandegiling, Surabaya.

Sehari setelah Jakarta berdarah, posko PDI Pro-Mega di bawah komando Ir. Sutjipto itu sudah dikepung massa yang digerakkan rezim. Tepatnya di Jalan Pandegiling 223.

Rezim mengira Surabaya akan ciut setelah menyaksikan pembantaian di Diponegoro 58 Jakarta sehari sebelumnya.

Perkiraan itu meleset. Arek-arek Suroboyo tak gentar. Di tengah kepungan intel, mereka meletuskan aksi cap jempol darah. Upaya de-Soekarnoisasi dari Orde Baru berhadapan dengan mental Arek Suroboyo!

Pekik "Merdeka!" bersahut-sahutan di sepanjang jalan. Kesetiaan kader pada Megawati Soekarnoputri dikunci mati.

Ketika posko fisik ditekan habis-habisan, pergerakan tidak lantas padam. Otak pergerakan di Surabaya langsung memutar taktik dengan menggeser perjuangan ke jalur hukum formal.

BACA JUGA:PDI Perjuangan Jatim Salurkan Sapi Kurban ke Tuban, 2 untuk DPC, 2 untuk Masjid dan Musala

BACA JUGA:Perkuat Basis Partai, PDI Perjuangan Surabaya Targetkan Pengurus 50 Persen Gen Z

Dibentuklah Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Surabaya. Ruslan Abdulgani, tokoh gaek nasional, ikut memberikan sumbangsih pemikiran. Ia yang mengusulkan agar nama Tim Pembela Demokrasi (TPD) ditambahi huruf "I" di belakangnya, merujuk Indonesia.

Mereka memusatkan markas perjuangan hukum tidak jauh dari sana, yaitu di kantor advokat Tri Mulja D. Soerjadi, Jalan Embong Sawo.

Ada cerita menarik di Embong Sawo. Tokoh sekelas R.O. Tambunan, advokat beken yang aslinya kader Golkar—partai pemerintah saat itu—sampai ikut turun gelanggang.

Tambunan bahkan menunjukkan KTA Golkar milik pribadinya. Hati nuraninya menolak diam. "Saya melihat ada harapan pemimpin baru dalam sosok Ibu Mega," akunya dikutip dari tulisan saksi perjuangan, Baktiono.

Lalu, benang merah sejarahnya ditarik lurus ke Jakarta. Tepatnya ke sebuah rumah di Jalan Kebagusan IV, Jakarta Selatan.

Ketika kantor pusat di Diponegoro sudah menjadi arang dan dikuasai tentara, Kebagusan mendadak menjadi episentrum baru. Ke sanalah arek-arek Suroboyo dan Bandung yang lolos dari maut dievakuasi untuk menyelamatkan diri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: