Musim Panas Terpanas, Eropa Diguncang Kebakaran Dahsyat: Api Membentuk Awan, Angin Susah Dikendalikan

Musim Panas Terpanas, Eropa Diguncang Kebakaran Dahsyat: Api Membentuk Awan, Angin Susah Dikendalikan

KAKI LANGIT MEMERAH menunjukkan besarnya kebakaran di seberang Danau Lacanau, Prancis, 24 Juli 2026.-MAXIMILIEN LAMY-AFP-

Musim panas ini, bencana datang bertubi-tubi di Eropa. Suhu udara menembus rekor tertinggi. Sementara, hutan-hutan pun terbakar. Mendatangkan bencana yang lebih panas lagi.

ASAP itu datang lebih dulu daripada api. Mula-mula ia menggantung di cakrawala, membentuk tiang-tiang kelabu yang menjulang, lalu perlahan menelan garis hutan dan langit musim panas di barat daya Prancis.

Di Bordeaux, seorang pria berusia 70 tahun, Frederic Tavitian, hanya sempat mendengar satu perintah: pergi. "Kami diberi tahu, 'Kalian harus mengungsi'," tuturnya seperti ditulis kantor berita Agence France-Presse, Sabtu, 25 Juli 2026..

Jumat malam itu, ia tidur di gedung pameran Bordeaux yang disulap menjadi tempat penampungan darurat. Sebelum meninggalkan rumah, Tavitian sempat menoleh ke arah kepulan asap yang terus membesar. "Kami melihat kolom-kolom asap, seperti gunung berapi yang hendak meletus," kenangnya.

BACA JUGA:Robert Lewandowski Gabung Chicago Fire, Ungkap Alasan Tinggalkan Eropa

BACA JUGA:Persebaya Kombinasikan Pemain Eropa dan Talenta Muda, Francisco Rivera Pede Tatap Super League!

Bagi ribuan orang lain di Prancis dan Spanyol, akhir pekan ini bukan lagi tentang liburan musim panas. Yang terpikir hanyalah tas darurat, ranjang lipat di aula pameran atau gimnasium, serta pertanyaan yang sama: apakah masih ada rumah yang bisa mereka pulangi?

Kebakaran hutan yang melanda dua negara itu telah memaksa lebih dari 300.000 orang meninggalkan rumah maupun tempat menginap mereka. Di Prancis saja, otoritas kini menyebut jumlah warga yang dievakuasi mencapai 220.000 orang. Itulah salah satu operasi evakuasi warga sipil pada masa damai terbesar yang pernah dilakukan negara itu.

Dan api belum berhenti bergerak…

Di sekitar Bordeaux, 55.000 orang lagi diperintahkan mengungsi pada Sabtu malam ketika kobaran api kembali membesar. Di Spanyol, delapan kota di sekitar Toledo, barat daya Madrid, juga diperintahkan mengosongkan wilayah mereka. Pemerintah memperingatkan malam berikutnya akan menjadi ujian yang tidak kalah berat.

Bagi petugas pemadam, kebakaran kali ini bukan sekadar besar. Ia juga sulit diprediksi.


SOPIR BULDOZER mendinginkan badan setelah berjibaku dengan api di El Tiemblo, Spanyol.-ALAIN JOCARD-AFP-

Dinas pemadam kebakaran Gironde menjelaskan bahwa kobaran api membentuk fenomena langka pyrocumulonimbus. Itu adalah awan yang tercipta oleh panas kebakaran itu sendiri. Awan tersebut menghasilkan angin dan pusaran udaranya sendiri. Sehingga, arah api berubah-ubah dan nyaris mustahil dikendalikan.

Akibatnya mengerikan. Matthieu Plessis, 40, kembali ke rumahnya di Gironde setelah tragedi. Yang ditemukannya adalah puing-puing yang masih mengepulkan asap.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: