Habitat Semanggi

Habitat Semanggi

ILUSTRASI Habitat Semanggi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Karena itu, saya melihat SCBD Park bukan semata proyek properti. Ia adalah contoh bagaimana investasi swasta dapat menghasilkan manfaat publik ketika berada dalam arah kebijakan kota yang benar. 

Pengembang tentu memperoleh keuntungan karena kawasan menjadi lebih hidup. Nilai propertinya meningkat. Restoran dan kafe kian ramai. Aktivitas ekonomi pun makin tumbuh. 

Namun, pada saat yang sama, masyarakat juga memperoleh ruang baru untuk menikmati kotanya. Kepentingan bisnis dan kepentingan publik tidak lagi dipertentangkan, tetapi dipertemukan.

Itulah esensi dari placemaking. Membangun kota tidak hanya mendirikan bangunan. Tetapi, juga menciptakan tempat yang membuat orang ingin datang. Merasa nyaman untuk tinggal lebih lama. Tempat yang menghadirkan pengalaman, bukan hanya fungsi.

Namun, kota tak boleh hanya menyerahkan segala urusan ruang publik kepada pengembang. Pemerintah kota tetap harus menjadi aktor utama yang menentukan arah. 

Ia harus memiliki desain besar tentang bagaimana sebuah kota berkembang. Di mana ruang publik harus dibangun? Bagaimana menghubungkan sudut-sudut kota dengan transportasi umum?

Pemerintah kota harus bisa memastikan bagimana anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, maupun mereka yang berpenghasilan rendah bisa menikmati ruang publik secara setara. Bukan ruang publik yang bisa dinikmati yang berpunya.

Jakarta mulai memperlihatkan kombinasi menarik. Di satu sisi terdapat ruang publik yang dibangun kalangan swasta seperti SCBD Park. Di sisi lain, pemerintah juga terus menghadirkan taman-taman kota, jalur pedestrian, Taman Literasi, Tebet Eco Park, hingga penataan Kota Tua.

Pilihan ruang publik menjadi makin beragam. Ada yang premium dan ada yang sederhana. Namun, semuanya memberikan kesempatan kepada warga untuk menikmati kota.

Model seperti itulah yang layak dikembangkan. Ruang publik tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya dinikmati kelompok tertentu. Anak dari keluarga sederhana juga memiliki hak yang sama untuk bermain di ruang yang aman dan nyaman.  

Kota yang adil selalu menyediakan ruang yang mampu mempertemukan seluruh lapisan sosial tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka. Tidak membiarkan hanya kelompok tertentu yang bisa menikmatinya.

Itu mengingatkan saya pada Surabaya. Dalam dua dekade terakhir, kota itu juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Taman Bungkul, Taman Prestasi, Taman Harmoni, Taman Flora, hingga puluhan taman lingkungan menjadi ruang interaksi baru bagi warga. 

Trotoar makin nyaman, ruang hijau bertambah, dan banyak keluarga menjadikan taman kota sebagai tujuan rekreasi pada akhir pekan. Transformasi Surabaya menunjukkan bahwa pemerintah daerah mampu menjadi motor utama penyediaan ruang publik.

Namun, tantangan kota-kota besar ke depan tentu makin kompleks. Kebutuhan ruang publik akan terus bertambah. Sementara itu, kemampuan fiskal pemerintah memiliki batas. Karena itu, kolaborasi menjadi keniscayaan. 

Pemerintah harus bertindak sebagai arsitek kota yang menentukan visi, arah, dan standar kualitas ruang publik. Pengembang dan investor menjadi mitra strategis yang menghadirkan kreativitas, investasi, serta inovasi desain. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: