Belajar Ketahanan Pangan dari Perth City Farm

Belajar Ketahanan Pangan dari Perth City Farm

PENULIS (dua dari kanan) berada di gerai yang menjual madu di Perth City Farm. -Yuni Sari Amalia untuk Harian Disway-

Keberadaan petani kecil, usaha keluarga, dan pelaku usaha baru berkaitan dengan SDG 8: pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Pasar mingguan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dan mengembangkan usaha.

Pemanfaatan ruang perkotaan untuk kegiatan pertanian, pendidikan, pasar, dan pertemuan warga mendukung SDG 11: kota dan permukiman yang berkelanjutan. Kota tidak hanya menjadi tempat tinggal dan bekerja, tetapi juga dapat menjadi ruang yang produktif dan ramah bagi komunitas.

Penggunaan produk lokal, pengelolaan bahan organik, dan upaya mengurangi rantai distribusi sejalan dengan SDG 12: konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Selain itu, praktik yang lebih ramah lingkungan berkontribusi terhadap SDG 13: penanganan perubahan iklim.

Kolaborasi antara petani, produsen, warga, relawan, mahasiswa, dan berbagai lembaga mencerminkan SDG 17: kemitraan untuk mencapai tujuan. Perubahan tidak dapat dilakukan sendirian, tetapi membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Dari kunjungan tersebut, kami memahami bahwa sebuah kegiatan sederhana dapat membawa banyak manfaat. Pasar mingguan tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, menjaga pengetahuan antargenerasi, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan mempertemukan warga.

Perth City Farm mengajarkan kepada kami bahwa makanan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan untuk makan. Makanan juga berhubungan dengan manusia, lingkungan, budaya, keluarga, dan keberlanjutan masa depan.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran penting selama mengikuti KKN Internasional di Australia. Kami berharap agar nilai-nilai yang dipelajari dapat dibawa kembali ke Indonesia dan dikembangkan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Ketahanan pangan yang kuat tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Ketahanan pangan dapat dimulai dari komunitas yang saling mendukung, petani yang dihargai, konsumen yang peduli, dan generasi muda yang mau belajar serta terlibat. (*)

*) Muhammad Rafsa Al Thalhah adalah mahasiswa KKN internasional Universitas Airlangga.

*) Yuni Sari Amalia adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya, Unair.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: