KTM Gagal Cegah Pedro Acosta Membelot ke Ducati
Dari Kiri; Pedro Acosta (37) dan Marc Marquez (93), saat bersaing di lintasan MotoGP. --Twitter Race Result @result_race
HARIAN DISWAY - Keputusan KTM memberikan keistimewaan kontrak kepada Pedro Acosta berbuah bumerang mematikan. Langkah nekat menghapus klausul perpanjangan otomatis tahun ketiga pada 2024, yang semula dianggap bentuk kepercayaan penuh, justru menjadi celah emas bagi Ducati untuk membajak sang wonderkid tanpa perlawanan hukum.
Ditambah performa RC16 yang kian menurun dan ditinggal deretan pembalap utamanya, pabrikan Mattighofen kini harus meratapi kehancuran proyek MotoGP mereka lebih awal, sementara Acosta siap menyambut era baru mesin 850cc bersama skuad Borgo Panigale.
Kepindahan Pedro Acosta ke Ducati pada 2027 tampaknya sudah tak terhindarkan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, detail kontrak yang sebelumnya dirahasiakan kini mengungkap alasan utama mengapa KTM gagal mencegah kepergian pembalap bintangnya ke tim pabrikan rival.
Selama bertahun-tahun, KTM menerapkan kebijakan kontrak yang sangat protektif. Pembalap umumnya menandatangani kontrak berdurasi dua musim, dilengkapi klausul opsi perpanjangan otomatis untuk tahun ketiga oleh pabrikan asal Mattighofen tersebut.
Klausul ini juga mencakup hak untuk menyamai tawaran (right of first refusal) dari pabrikan pesaing demi mempertahankan sang pembalap.
BACA JUGA:Ducati Curi Start! Nicolo Bulega Uji Mesin Prototipe 850cc untuk MotoGP 2027 di Mugello
BACA JUGA:CEO Aprilia Desak Jorge Martin dan Bezzecchi Berdamai
Sistem inilah yang membuat pembalap seperti Maverick Vinales dan Enea Bastianini tak memiliki banyak opsi saat bernegosiasi. Namun, Pedro Acosta mendapatkan perlakuan khusus.
Melansir Motorsport Spain, saat menegosiasikan promosinya dari tim satelit Tech3 ke tim pabrikan KTM pada 2024, pembalap muda Spanyol itu menuntut penghapusan opsi tahun ketiga.
Di luar dugaan, KTM menyetujuinya, kemungkinan besar karena yakin sang wonderkid tidak punya alasan untuk meninggalkan proyek yang dibangun di sekelilingnya.

Pedro Acosta, di prediksi banyak pengamat akan kesulitan menjinakkan Ducati di 2027--Twitter Paddock GP @Paddockgp1
Jika ditelaah, konsesi tersebut menjadi kesalahan strategis terbesar KTM. Tanpa klausul itu, Ducati bisa bernegosiasi langsung dengan Acosta untuk musim 2027 dan 2028 tanpa memberi ruang bagi KTM untuk menggunakan hak prioritas atau memblokir proses transfer secara hukum.
Kepergian Acosta terasa kian menyakitkan karena KTM telah mempertaruhkan segalanya. Setelah hanya satu musim di Tech3, Acosta dipromosikan ke tim utama pada 2025 menggantikan Jack Miller. Ia dengan cepat menjadi tolok ukur baru bagi pengembangan RC16, bahkan menggeser Brad Binder dalam hierarki tim.
Sayangnya, KTM gagal menyediakan motor yang sanggup memenuhi ambisi Acosta. Perkembangan RC16 dinilai stagnan. Di sisi lain, regulasi baru mesin 850cc menjadi momentum ideal untuk memulai lembaran baru, peluang emas yang langsung disodorkan oleh Ducati.
BACA JUGA:KTM Ingkar Janji? Maverick Vinales Bongkar Skandal Pembatalan Kontrak Sepihak!
BACA JUGA:Bocoran Tes Tertutup Brno: Pirelli Sebut 2 Pabrikan Ini Paling Siap di MotoGP 2027
Musim 2026 bahkan belum usai, tetapi proyek KTM perlahan mulai runtuh:
- Brad Binder dipastikan hengkang di akhir musim untuk berlabuh ke BMW di ajang WorldSBK.
- Maverick Viñales, yang hubungannya dengan manajemen memburuk, tidak diperpanjang dan berpotensi pensiun dari MotoGP.
- Enea Bastianini santer dikabarkan menuju tim satelit Trackhouse Aprilia.
Untuk membangun ulang skuadnya di era baru 850cc, KTM memilih memfokuskan lini pembalap pada Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio.
Pada akhirnya, bukan sekadar celah kontrak yang mendorong Acosta ke pelukan Ducati, melainkan ketidakmampuan KTM menyediakan motor pemenang secara konsisten.
Penghapusan klausul perpanjangan hanya memberi jalan secara hukum, sementara penurunan performa RC16 menjadi alasan final yang memantapkan langkah Acosta menuju Borgo Panigale.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: