Laba Bersih BNI Tembus Rp10,8 Triliun, Cetak Rekor Baru Bersama Danantara

Laba Bersih BNI Tembus Rp10,8 Triliun, Cetak Rekor Baru Bersama Danantara

Dari kiri: Direktur Risk Management BNI David Pirzada, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, dan Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena berbincang di sela acara Earnings Call 1H-2026 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk di Jaka-BNI-BNI

JAKARTA, HARIAN DISWAY — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan performa bisnis yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Di bawah koordinasi keterpaduan BUMN bersama Danantara Indonesia, bank berkode saham BBNI ini sukses mencatatkan Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) tertinggi sepanjang sejarah perusahaan untuk periode semester pertama, yakni mencapai Rp18,5 triliun. Sementara itu, laba bersih perseroan terkumpul sebesar Rp10,8 triliun.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari langkah transformasi yang berorientasi pada kualitas bisnis inti serta efisiensi digital yang berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset," ujar Putrama dalam keterangan resminya, Rabu, 5 Agustus 2026.

Putrama menambahkan bahwa arah pengembangan bisnis ini berjalan selaras dengan agenda besar Danantara Indonesia. Fokus utamanya adalah penguatan fundamental korporasi, profesionalisme tata kelola, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

BACA JUGA:BNI Tegaskan Siswa Datang dengan Ambulans Bukan Arahan Petugas

BACA JUGA:BNI Tegaskan Kasus KUR Jember Berawal dari Laporan Perseroan, Terapkan Zero Tolerance!

Kredit Tumbuh 24,4 Persen, Biaya Dana Semakin Murah

Dari sisi intermediasi, BNI mencatatkan lonjakan penyaluran kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp968,5 triliun per Juni 2026. Ekspansi ini menyasar berbagai segmen mulai dari korporasi, komersial, UMKM, hingga kredit konsumer yang dilakukan secara selektif guna memitigasi risiko.

Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang kokoh. Dana murah atau CASA BNI tumbuh 11,2 persen (yoy), sehingga mampu mempertahankan porsi CASA di level 65,4 persen dari total dana pihak ketiga.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa keberhasilan menjaga likuiditas ini membuat biaya dana (cost of fund) DPK membaik menjadi 2,56 persen, turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,78 persen.

Dampaknya langsung terasa pada pendapatan inti perseroan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun. Angka pertumbuhan yang sama, yakni 14,2 persen, juga dibukukan oleh pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) yang menyentuh Rp9 triliun.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya," kata Paolo.

BACA JUGA:BNI Tuntaskan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Milik CU Paroki Aek Nabara

BACA JUGA:BNI Komitmen Selesaikan Pengembalian Dana Nasabah CU Aek Nabara dalam Sepekan

Ledakan Transaksi Digital Melalui 'wondr by BNI'

Faktor utama yang menggerakkan efisiensi dan produktivitas BNI adalah akselerasi transformasi digital. Aplikasi perbankan ritel terbaru, wondr by BNI, mencatatkan lompatan luar biasa dengan jumlah pengguna mencapai 15,1 juta dan pertumbuhan volume transaksi sebesar 110 persen secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: