Mahasiswa dan Jebakan Budaya Pasar

Mahasiswa dan Jebakan Budaya Pasar

ILUSTRASI Mahasiswa dan Jebakan Budaya Pasar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Hal itu justru makin memvalidasi kebiasaan bertransaksi itu. Buktinya, sejumlah kebijakan, bahkan sejak era otoritarianisme Orde Baru, tak mampu memotong tradisi pemikiran tersebut.

Budaya pasar mirip seperti fenomena gunung es; mengendap kepada seluruh mahasiswa sebagai representasi sosial budaya masyarakat yang sangat mudah dipengaruhi money politics, gratifikasi, dan korupsi. Fenomena itu mendorong kebiasaan bertransaksional makin besar. 

Pandangan instan yang demikian kemudian berevolusi dalam benak (mantan) aktivis mahasiswa. Ketika sudah berkuasa, lupa tujuan inti dari mengemban amanah serta mudah mengabaikan amanah. 

Moralitas menjadi urusan belakangan. Puncaknya, sebagian di antara mereka mengorganisasi kejahatan untuk memperkaya diri, keluarga, atau kelompoknya, sekaligus mencegah secara sistemik agar tidak berubah. 

Anomali budaya pasar pada aktivis mahasiswa dan mantan aktivis itu seperti orang dalam beragama; bahwa iman bisa naik-turun. Begitu pula empati, simpati, dan kesadaran berbangsa. 

Memang, budaya yang hidup bahkan dalam gerakan mantan aktivis mahasiswa itu jauh lebih baik, daripada tidak merespons permasalahan sosial sama sekali. 

Akan tetapi, sebagian kelompok mahasiswa apatis-pragmatis yang mungkin mulai berpikir untuk tidak bekerja di dalam negeri, bahkan berencana untuk berpindah kewarganegaraan ke negara-negara yang lebih menghargai pikiran, karya, dan kesejahteraan, itu yang perlu juga diperhatikan secara serius. 

Ujian

Hal yang transaksional itu memang tidak dapat dihindari. Bahkan, memilih dan mengamalkan sudut pandang untuk dijadikan obor kegelisahan gerakan sosial memang tidak mudah. Akan tetapi, standar moralitas budaya pasar yang tidak berubah selama beberapa dekade ini perlu dikoreksi secara serius bahkan oleh pemerintah dan kampus. 

Pertanyaannya adalah bagaimana nilai-nilai budaya pasar didasarkan kepada nilai luhur yang universal dan tidak menegasikan kompleksitas akar utang budi sejarah dan budaya? Tidak mudah menjawabnya dan tidak mudah untuk memuaskan semua pihak. 

Mahasiswa perlu merenungkan diri, apakah mengikuti arus tersebut atau tidak. Kritisisme mahasiswa memang penting. Lebih jauh, fokus kepada solusi perlu diprioritaskan. 

Peringatan Soe Hok Gie pada 1960-an tentang aktivis yang terjebak dalam lingkaran setan tradisi yang sama ketika berkuasa perlu diperhatikan. Mengingat, sampai hari ini sejumlah mantan aktivis, baik yang sedang berkuasa maupun oposisi, justru mengulang kesalahan sejarah. 

Mahasiswa baru tentu mudah dipersuasi dan didoktrin tentang role model mahasiswa ideal. Isu transaksional melalui kepedulian terhadap situasi sosial, ekonomi, politik, dan seterusnya bisa diekspresikan dengan beragam cara. 

Pemenang dan penguasa pikiran dalam medan laga yang politis tampak membingungkan. Jika mahasiswa hanya bangga terhadap doktrin agent of change semata tanpa melihat prioritas, tujuan, dan sudut pandang yang jelas, mereka rentan lupa banyak hal yang perlu dievaluasi. 

Mereka lupa bahwa tujuan inti dari menjadi mahasiswa adalah kuliah dan lulus tepat waktu agar tidak menjadi beban orang tua dan (subsidi) negara. Terkadang memang sulit memang bagi mereka yang mudah terpantik empati terhadap kesusahan sesama. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: