Al-Qur’an dan Miras, Ironi Bangsa Religius

Al-Qur’an dan Miras, Ironi Bangsa Religius

ILUSTRASI Al-Qur’an dan Miras, Ironi Bangsa Religius.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Al-Qur'an dan alkohol. Yang satu kitab suci, satunya lagi minuman yang diharamkan oleh kitab suci. Hanya terjadi di Indonesia. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Al-Qur’an dijadikan gimik marketing produk alkohol. Hafalan Surah Ad-Duha dijadikan challenge dengan hadiah minuman keras beralkohol. 

Video yang beredar menggambarkan sebuah booth promosi di festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara, pada 9 Agustus 2026, menyajikan challenge yang membuat heboh itu. 

Mungkin tim marketing produk itu berpikir bahwa challenge tersebut bagian dari gimik marketing. Dalam teori marketing modern, sebuah kampanye marketing produk memang harus unik, mampu menciptakan engagement, dan yang paling penting, harus bisa viral. 

Namun, kreativitas tanpa batas etika seperti itu akhirnya menjadi kesembronoan yang membuat banyak orang geram. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai, materi promosi semacam itu tidak dapat dibenarkan dari sisi agama, moral, etika, maupun hukum.

BACA JUGA:Kasus Setor Hafalan Ayat Al-Qur'an Berhadiah Miras, Polisi Tangkap R dan E

BACA JUGA:Bukan Sekadar Dihafalkan, Parenthood Academy Tegaskan Pentingnya Pendidikan Al-Qur'an untuk Diamalkan

Bagi masyarakat yang religius seperti Indonesia, insiden itu menjadi paradoks moral. Kesalehan sosial terlihat di mana-mana. Masjid tumbuh menjamur. Kajian agama memenuhi ruang publik. Masjid dan musala di pusat perbelanjaan selalu penuh setiap waktu salat. 

Survei Kementerian Agama dan Alvara pada 2025 menemukan bahwa gen Z memiliki tingkat toleransi beragama yang lebih tinggi daripada generasi milenial dan baby boomers. Survei juga menunjukkan bahwa generasi itu termasuk kelompok dengan kemampuan membaca Al-Qur’an yang lebih tinggi daripada generasi lain.

Fenomena itu menjadi indikasi bahwa orang tua generasi Z –yang sudah masuk usia kepala lima dan kepala enam– makin tinggi kesadaran religiusnya. Kemudian, menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Islam. Atau, mengundang guru agama untuk memberikan les privat.

Sebuah survei internasional mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa paling dermawan di dunia. Salah satu faktornya adalah kegemaran orang Islam –terutama muslim kelas menengah kota– berinfak dan bersedekah. Muslim kelas menengah kota itulah yang melahirkan generasi Z yang lebih sadar agama.

BACA JUGA:Capai Target Khatam Al-Qur'an 350 Ribu Kali dalam Sehari, Kemenag Cetak Rekor MURI

BACA JUGA:Pembakar Al-Qur'an Salwan Momika Tewas Sebelum Vonis, Ini Dia Riwayat Hidupnya

Jangan-jangan, tim marketing produk beralkohol itu juga melakukan survei dan menemukan hasil yang sama. Karena itu, materi challenge dalam acara promosi tersebut dikemas dalam kuis hafalan surah Al-Qur’an.

Namun, ada paradoks moral yang terlihat pada generasi muda kita. Sebuah penelitian terhadap 480 remaja usia 15–19 tahun di Bandung menemukan bahwa 8,3 persen responden mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Lima persen mengaku pernah berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun. Dan, 25,8 persen melaporkan pengalaman petting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: