Open House Wisma Jerman, 50 Peserta Unjuk Kemampuan Mendongeng

Open House Wisma Jerman, 50 Peserta Unjuk Kemampuan Mendongeng

Salah satu peserta kursus yang turut ikut lomba mendongeng dalam Open House Wisma Jerman, Sabtu, 22 Agustus 2026-Ihsania Rahma-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Kompetisi mendongeng mewarnai Open House Wisma Jerman pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Sekitar 50 peserta ambil bagian dan adu kreativitas mendongeng. Namun, penyampaian cerita dalam Bahasa Jerman menjadi perhatian utama para juri.

Eskpresi para pendongeng dan kostum yang mereka gunakan saat menyampaikan cerita menjadi komponen menarik dalam kompetisi. Para peserta adalah siswa kursus di Wisma Jerman.

Mereka  ditantang untuk bisa menyampaikan cerita dalam Bahasa Jerman itu kepada masyarakat awam. Sehingga, mereka yang tidak mengerti Bahasa Jerman tetap tertarik dan betah mendengarkan sampai akhir.

Kepala Departemen Bahasa Wisma Jerman Lazaros Keskinidis mengatakan bahwa kompetisi mendongeng itu sekaligus menjadi sarana bagi mereka untuk menunjukkan budaya Jerman. Sebab, mendongeng adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat di sana.

BACA JUGA:Gelar Open House 2026, Wisma Jerman Pamerkan Kekayaan Bahasa dan Budaya, Tanggalkan Stereotip

BACA JUGA:Road to Seriale di Wisma Jerman Surabaya Jadi Ruang Diskusi, Refleksi, dan Kolaborasi

"Kami ingin berbagi budaya dan tradisi Jerman. Ini juga menjadi kesempatan bagi peserta didik kami untuk berbicara Bahasa Jerman dan mempelajari hal-hal tambahan," ujar Lazaros kepada Harian Disway.

Dalam lomba tersebut, peserta tampil dengan konsep yang beragam. Ada yang memilih tampil secara individu, sementara lainnya tampil berkelompok dengan jumlah anggota yang berbeda-beda. 

Gaya bercerita mereka pun macam-macam. Ada yang berfokus monolog, ada pula yang mengemasnya seperti pertunjukan teater. Kendati beragam, tujuan mereka sama. Yakni, menghidupkan cerita.

Perbedaan konsep tersebut membuat setiap penampilan memiliki ciri khas masing-masing. Peserta memang diberi keleluasaan untuk mengembangkan cerita sesuai kreativitas mereka.

BACA JUGA:Ngabuburit di Wisma Jerman Surabaya, Nonton Film Komedi Hello Again

BACA JUGA:Wisma Jerman Buka Pameran ESCape, Limbah Plastik Disulap Jadi Karya 3 Dimensi


PENYERAHAN HADIAH untuk kompetisi mendongeng alias Marchen dalam Open House Wisma Jerman pada Sabtu, 22 Agustus 2026. -Ihsania Rahma-Harian Disway

Selain kefasihan berbahasa, beberapa hal lain menjadi perhatian juri. Mulai dari kreativitas peserta, ide cerita, kemampuan akting, sampai kostum yang digunakan.

"Setiap kelompok menafsirkan ceritanya dengan cara yang berbeda. Menarik melihat bagaimana mereka mengolah materi yang diberikan," papar Lazaros.

Salah satu peserta, Iscaily Rahma Putri Machdani, tampil bersama tiga temannya. Mereka membawakan cerita Si Tudung Merah. Kendati hanya bertiga, mereka memerankan tokoh utama, nenek, ibu, pemburu, dan serigala.

Iscaily mengatakan kelompoknya memilih cerita tersebut karena sudah banyak dikenal dan memiliki alur yang menarik. Selain itu, mereka juga melihat ada pesan yang bisa disampaikan kepada penonton.

BACA JUGA:Usung Tenun Gedog Tuban dan Filosofi Koma, Uzzaer Ruwaidah Pamer Karya di Wisma Jerman

BACA JUGA:Wisma Jerman Gelar Oktoberfest ke-10 di Surabaya, Rayakan Persatuan Jerman dan Budaya Bavaria

"Pesannya adalah kita jangan sembarangan berbicara dengan orang asing. Si Tudung Merah sebenarnya disuruh pergi ke rumah nenek dan jangan ngobrol dengan orang lain, tetapi dia tidak menaati perkataan ibunya," kata Iscaily.

Untuk mempersiapkan penampilan, dia dan kelompoknya harus berlatih selama sekitar tiga minggu. Mereka mempersiapkan dialog, pembagian karakter, hingga akting agar cerita yang dibawakan lebih menarik.

Bagi Iscaily yang baru satu periode menjadi peserta kursus di Wisma Jerman, pengalaman seperti itu sangat menarik. Dia bisa lebih cepat belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan.

Mahasiswi semester lima Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Unesa itu semakin bersemangat menjalani kursus. Dia juga menemukan banyak hal baru yang menarik dalam budaya Jerman. 

BACA JUGA:Gado-Gado Bahasa di Wisma Jerman, Ajang Multilingual Menyatukan Beragam Kultur

BACA JUGA:Wisma Jerman Gelar East Side Gallery Meets Surabaya: Pameran Seni Terinspirasi Mural di Tembok Berlin

Menurut Iscaily, kompetisi mendongeng adalah cara yang asyik untuk mempraktikkan kemampuannya berbahasa Jerman. Apalagi, Bahasa Jerman memang menjadi subjek yang memikat hatinya sejak duduk di bangku SMA. 

Lewat kompetisi semacam itu, para peserta kursus di Wisma Jerman punya kesempatan untuk langsung menerapkan kemampuan mereka di depan publik.

Selain itu, mereka juga berkesempatan mendapatkan wawasan baru atau membagikan pengetahuan mereka kepada lebih banyak orang. Itu sesuai dengan tema open house tahun ini yang Jerman Banget(*)

*Mahasiswa Magang Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Unesa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: