Menyusuri Dataran Tinggi Gayo, Rumah bagi Kopi Arabika Terbaik Dunia

Menyusuri Dataran Tinggi Gayo, Rumah bagi Kopi Arabika Terbaik Dunia

Petani memetik buah kopi arabika Dataran Tinggi Gayo yang berkabut.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dataran Tinggi Gayo, kawasan yang membentang di punggung Pegunungan Bukit Barisan, ujung utara Pulau Sumatera, telah lama dikenal sebagai pemghasil kopi arabika terbaik. Secara administratif, wilayah ini meliputi tiga kabupaten: Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Dari tanah inilah, konon, biji-biji kopi arabika terbaik di dunia dihasilkan. 

Bodinya kuat, dengan aroma dan tingkat keasaman yang sangat baik. Nah apa yang menjadikan kopi dari tanah Gayo begitu istimewa kita akan bahas pada tulisan kali ini yang dimulai dari Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah.

Sebagai kabupaten, usia Bener Meriah terbilang muda - hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2003. Namun di baliknya tersimpan pengalaman ratusan tahun sebagai penghasil biji kopi Arabika kelas dunia.

Wilayah seluas sekitar 1.800 hektare dengan ketinggian kurang lebih 1.500 meter di atas permukaan laut ini bahkan pernah menyandang predikat sebagai daerah perkebunan kopi Arabika terluas di Indonesia, sebelum posisi itu diambil alih oleh Aceh Tengah, kabupaten tetangganya. 

Tak mengherankan bila mayoritas penduduk Bener Meriah menggantungkan hidup sebagai petani kopi. Dan dalam satu kali musim panen, rata-rata petani disana kebunnya bisa menghasilkan lebih dari 500 kilogram. 

Memetik yang Matang, Menyisakan yang Belum Siap

Jenis kopi Arabika yang dibudidayakan di kebun-kebun disana berasal dari varietas Tim Tim, dengan ciri khas ukuran buah yang relatif lebih besar dibanding varietas lain. Masa puncak panennya berlangsung antara Februari hingga April.

Setiap batang kopi Arabika mampu menampung 10 hingga 15 rangkaian bunga kecil yang kelak berkembang menjadi buah kopi matang yang disebut cherry berbentuk oval dan tumbuh berdampingan dua-dua.

Tidak semua buah bisa dipetik sembarangan. Buah yang layak petik adalah yang berwarna merah penuh, atau setidaknya oranye merata. Buah yang masih hijau tidak disarankan untuk dipetik karena rasanya belum sempurna, sementara buah yang telat dipanen akan menghitam dan mengering di pohon dengan teksturnya keras, dengan aroma manis yang bercampur sedikit rasa asam, mirip buah yang sudah terlalu matang.

Sebaliknya, buah yang dipetik tepat waktu terasa sangat manis dan berair dan karena inilah mengapa satwa liar seperti luwak begitu menggemari kopi yang telah matang sempurna.

BACA JUGA:Xiaomi Rilis Mesin Kopi Kapsul Mijia Secara Global

BACA JUGA:Jogja, Kopi Klotok, dan Rasa Pulang: Dari Sawah Lereng Merapi ke Dapur Nenek yang Tak Pernah Pergi

Dari Kebun ke Tengkulak, Mengikuti Harga Dunia

Dahulu, petani Gayo mengolah sendiri biji kopi hasil kebunnya dan menjualnya secara sporadis — kadang langsung ke pasar, namun lebih sering ke tengkulak yang kerap mempermainkan harga. Transaksi bernilai jutaan rupiah pun berlangsung dengan cara yang sangat sederhana. 

Harga jual kopi Gayo berubah setiap hari, mengikuti pergerakan harga kopi dunia. Para petani tergabung dalam kelompok tani di desa masing-masing, yang menunjuk pengumpul untuk menjual kopi gabah ke koperasi setempat. Koperasi kemudian menjual ke eksportir, atau mengekspor sendiri biji-biji kopi tersebut.

Perdagangan kopi Arabika banyak mengacu pada harga pasar terminal New York Board of Trade dimana kopi Arabika mutu satu dari Gayo biasanya dihargai lebih tinggi 30 hingga 40 sen per pon di atas harga New York, selisih yang dikenal sebagai premium.

Informasi harga ini mengalir dari koperasi ke kelompok tani, lalu ke petani. Berkat perkembangan teknologi, arus informasi kini bisa jauh lebih cepat sehingga para petani dapat memantau harga kopi dunia lewat internet, koran lokal, bahkan pesan singkat dari sesama petani, sehingga harga yang mereka terima nyaris tak pernah tertinggal dari harga pasar global sekalipun mereka tinggal jauh di pelosok Gayo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: