Botok Pati
ILUSTRASI Botok Pati.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Keberhasilan warga Pati menggusur Bupati Sudewo menjadi bukti nyata bahwa jika rakyat bersatu, tembok kekuasaan yang keras pun bisa diruntuhkan.
Tentu saja, dalam setiap dinamika perjuangan, selalu ada riak penyempalan. Figur seperti Husein, misalnya, memilih jalan berlainan. Ia mungkin mendapatkan sesuatu secara materi atau politik dari kompromi tersebut.
Namun, hukum sejarah itu kejam, namanya hilang dan tenggelam dari ingatan kolektif. Publik tahu siapa yang bertaruh demi nurani dan siapa yang bertransaksi demi kepentingan pribadi.
Upaya-upaya konvensional untuk membungkam gerakan rakyat menemui kegagalan telak. Salah satu momen krusial adalah ketika timbul dugaan intervensi berupa pemblokiran rekening Botok di Bank Mandiri.
Langkah untuk mematikan logistik gerakan justru berbalik menjadi senjata makan tuan (backfire). Publik merespons tindakan tersebut dengan marah.
Seruan untuk mengosongkan saldo hingga keluar menjadi nasabah Bank Mandiri bergema luas, membuat lembaga keuangan besar tersebut terdesak oleh kekuatan netizen dan boikot konsumen.
Hal itu membuktikan kebenaran tesis Manuel Castells mengenai network society, ’masyarakat berjejaring’. Ketika muncul ketidakadilan seperti penekanan fisik maupun finansial terhadap simbol rakyat, gelombang perlawanan akan makin besar.
Fenomena Botok bukan sekadar tentang individu, melainkan juga manifestasi dari kebangkitan spirit gerakan perlawanan masyarakat berjejaring.
Dari masyarakat Pati yang sederhana, lahir pergerakan akar rumput yang mampu menggetarkan episentrum kekuasaan.
Ketika oposisi formal mati dan parlemen diam, ruang kosong akan diisi oleh tokoh tak terduga dari sudut-sudut daerah. Botok adalah salah satu buktinya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: