Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara
ILUSTRASI Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Dari Keserakahan Menuju Kesadaran
Pelajaran termahal dari petaka di perbatasan Himalaya adalah desakan untuk mengubah paradigma pembangunan kita dari model eksploitatif menuju model regeneratif. Kita tidak bisa terus menjalankan kebijakan ekonomi yang menomorduakan kelestarian lingkungan demi mengejar pertumbuhan angka semu di atas kertas.
Krisis lingkungan hidup yang dihadapi dunia saat ini menuntut integrasi sains yang ketat ke dalam setiap kebijakan tata ruang dan perizinan proyek strategis.
Mitigasi bencana tidak boleh sekadar berfokus pada tanggap darurat setelah kejadian, tetapi harus dimulai dari hulu dengan menghentikan konversi lahan kritis dan memulihkan ekosistem yang telah rusak.
Keserakahan manusia yang merasa mampu menaklukkan alam adalah ilusi peradaban yang sangat berbahaya. Setiap jengkal hutan yang dibabat secara ilegal, setiap bukit yang diratakan tanpa perhitungan dampak lingkungan, dan setiap kebijakan yang meremehkan sains iklim sedang menanam benih malapetaka bagi generasi mendatang.
Kita perlu menyadari bahwa bumi memiliki batas lenting elastisitasnya sendiri. Bila batas keseimbangan itu dilanggar terus-menerus, alam akan menagih bayarannya dengan cara yang tidak mengenal negosiasi kemanusiaan.
Menghadapi masa depan dengan ancaman krisis iklim yang makin intensif, bangsa Indonesia harus segera berbenah dan memperlakukan alam sebagai ruang hidup bersama yang wajib dihormati.
Menjaga kelestarian hulu sungai, melindungi hutan hujan tropis yang tersisa, dan menegakkan hukum lingkungan tanpa pandang bulu bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan instrumen pertahanan hidup bangsa. Bencana banjir dahsyat di atap dunia adalah alarm peringatan keras bagi seluruh penghuni bumi.
Pertanyaannya tinggal satu, apakah kita memilih untuk segera bangun dan memperbaiki diri atau membiarkan alarm itu terus berbunyi hingga giliran kita yang tersapu oleh gelombang kehancuran berikutnya. (*)
*) Hery Purnobasuki adalah guru besar FST Universitas Airlangga dan ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: