Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara

Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara

ILUSTRASI Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BENCANA banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Himalaya antara Tibet dan Nepal kembali membuktikan betapa rapuhnya peradaban manusia saat alam mulai menunjukkan daya destruktifnya. Air bercampur lumpur tebal, batuan raksasa, dan puing-puing infrastruktur menyapu apa saja di sepanjang jalurnya dalam hitungan menit. 

Fenomena mengerikan itu menelan korban jiwa, menghilangkan ratusan orang, dan melumpuhkan perlintasan penting di wilayah pegunungan tersebut. Kejadian tersebut mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah benar-benar diam dalam menghadapi ulah manusia.

Dentuman dari Atap Dunia

Kawasan Himalaya kerap dijuluki sebagai atap dunia sekaligus kutub ketiga bumi karena menyimpan cadangan es terbesar di luar kawasan kutub utara dan selatan. Namun, stabilitas ekosistem purba itu kian terancam karena pemanasan global yang berlangsung begitu masif. 

Banjir bandang dahsyat di perbatasan pegunungan tersebut dipicu oleh fenomena luapan danau glasial atau glacial lake outburst flood yang diperparah oleh runtuhan batuan serta longsoran masif. 

BACA JUGA:Nepal Mulai Menguburkan Korban Banjir Bandang: Ribuan Masih Hilang Ditelan Himalaya

BACA JUGA:Banjir Bandang Nepal-Tiongkok Picu Diskusi Eksploitasi Himalaya, 3.000 Masih Dilaporkan Hilang

Ketika kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi mencairkan gletser dengan kecepatan yang melampaui siklus alaminya, terbentuklah danau-danau supraglasial yang tidak stabil.

Bendungan alami penampung air lelehan es yang hanya terdiri atas endapan morain dan batuan lepas tidak mampu lagi menahan debit air yang membengkak. Ketika sedikit guncangan seismik atau pergerakan massa lereng terjadi, dinding alami tersebut jebol seketika. 

Air bah dalam volume raksasa mengalir bebas menuruni lembah sempit dengan kecepatan tinggi, membawa energi kinetik luar biasa yang melumat pemukiman, jembatan, dan jalan perbatasan. 

Dari sudut pandang sains, kejadian itu adalah hukum fisika dan termodinamika sederhana, tetapi dari kacamata ekologis, itu adalah peringatan nyata dari bumi yang terganggu keseimbangannya.

BACA JUGA:Helioterapi, Tren Kesehatan Baru yang Berakar dari Praktik Purba Himalaya

BACA JUGA:Pangdam V/Brawijaya Kisahkan Sikap Kepahlawan Bersahaja Sherpa Tenzing di Himalaya

Antropogenik dan Kemarahan Alam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: