Robot Bawah Air dan Masa Depan Kemandirian Maritim Indonesia
Robotika maritim seperti ROV, AUV, dan i-BOAT membuka peluang hilirisasi teknologi, penguatan SDM, industri, dan lapangan kerja baru di Indonesia.-Dibuat dengan AI-
Ketika pelabuhan membutuhkan inspeksi, muncullah permintaan jasa inspeksi. Jasa tersebut membutuhkan unit ROV. Unit ROV pada akhirnya menuntut kehadiran operator, teknisi, engineer, programmer, ahli elektronika, analis data, hingga tenaga pemeliharaan.
Dengan pola ini, satu kebutuhan industri mampu memicu rangkaian permintaan ekonomi baru yang luas.
Pasar menentukan volume produksi robot sekaligus menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi ikutan di belakang teknologi tersebut.
Perspektif ini amat penting bagi dunia pendidikan tinggi dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Selama ini, keberhasilan institusi pendidikan kerap diukur dari seberapa banyak lulusan yang terserap oleh industri. Ke depan, ukuran itu perlu diperluas menjadi perhitungan jumlah ruang kerja baru yang berhasil diciptakan melalui penguasaan teknologi.
Robotika maritim memberikan contoh yang kasat mata. Lulusan teknik perkapalan dapat mengambil bagian pada desain dan struktur. Lulusan teknik mesin mengembangkan sistem propulsi. Lulusan teknik elektro menangani sensor dan kelistrikan. Lulusan informatika merancang perangkat lunak serta pengolahan data. Sementara itu, lulusan manajemen dan bisnis berperan membangun jasa inspeksi, pengelolaan proyek, serta model usaha baru.
Artinya, hilirisasi teknologi menghasilkan produk sekaligus membuka ruang kerja bagi kaum terdidik di dalam ekosistem DUDI.
Semakin kompleks teknologi yang dikembangkan, semakin besar pula kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi yang spesifik.
Oleh karena itu, pengembangan ROV paling efektif jika dimulai dari persoalan di lapangan. Ketika industri menuntut inspeksi bawah air yang lebih aman dan efisien, tuntutan itu diterjemahkan menjadi arah riset di kampus. Kampus menyusun desain, mahasiswa bersama dosen merakit prototipe, lalu industri menguji hasilnya. Kekurangan yang ditemukan di lapangan langsung diperbaiki.
Masalah melahirkan riset. Riset melahirkan prototipe. Pasar memberikan umpan balik. Pengujian meningkatkan kualitas. Pada akhirnya, teknologi yang matang menjelma menjadi nilai ekonomi.
Inilah wujud hilirisasi yang sesungguhnya. Dalam kerangka rantai nilai, semakin banyak tahapan yang dikerjakan di dalam negeri, semakin besar pula porsi nilai tambah ekonomi yang tinggal di Indonesia.
Kita tidak harus memproduksi seluruh komponen ROV seorang diri. Sensor, kamera, motor, baterai, maupun komponen spesifik lainnya tetap dapat disuplai dari rantai pasok global. Namun, kapabilitas strategis seperti desain, rekayasa, integrasi sistem, perangkat lunak, pengujian, pemeliharaan, dan pengembangan harus dikuasai secara mandiri di dalam negeri. Sebab, ada batas tegas antara membeli teknologi dan benar-benar menguasai teknologi.
Jawa Timur dan Ekosistem Pasar
Jawa Timur memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem tersebut. Gresik ditopang oleh manufaktur, energi, pelabuhan, dan aktivitas maritim. Lamongan dikuatkan oleh sektor perikanan dan kawasan pesisir. Tuban didukung oleh industri berat dan energi. Bojonegoro melengkapinya dengan ekosistem industri energi serta perusahaan pendukung.
Jika seluruh kawasan ini ditenun sebagai satu koridor industri tunggal, kebutuhan terhadap SDM yang fasih menggabungkan ilmu teknik, maritim, dan teknologi digital akan melonjak drastis.
Perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai simpul penghubung antara kebutuhan pasar dan kapabilitas teknologi. Konsep living laboratory menjadi relevan: kampus bertransformasi menjadi kawah candradimuka untuk menguji solusi atas persoalan nyata industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: