Desil dan Janji Kesejahteraan
ILUSTRASI Desil dan Janji Kesejahteraan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DI Mantrijeron, Kota Yogyakarta, M. Muslim tidak membeli mobil, tidak pula menambah aset apa pun dalam setahun terakhir. Namun, sensus terbaru memindahkannya dari desil 4 ke desil 9: dari kelompok yang berhak menerima bantuan menjadi kelompok yang, di atas kertas, dianggap mampu. ”Padahal, tidak punya mobil,” katanya, heran, pertengahan Agustus 2026.
Tidak jauh dari sana, di Gowongan, Tinah, perempuan 71 tahun yang menumpang di rumah warisan orang tuanya tanpa penghasilan tetap, mendapati Program Keluarga Harapan yang selama ini menopangnya tiba-tiba terhenti.
Sistem menilainya sudah ”tidak rentan miskin” dan menaikkannya ke desil 6. Ketua RT setempat pun tidak bisa menjelaskan sebabnya.
Dua kisah itu bukan kesalahan administratif yang berdiri sendiri. Keduanya menyingkap watak dari eksperimen besar yang sedang berjalan: Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), basis data yang sejak awal 2026 menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai rujukan tunggal negara untuk menentukan siapa miskin dan siapa tidak.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Soroti Warga Miskin Masuk Desil Tinggi
BACA JUGA:Ketika Angka Desil Membabi Buta, Hak Pendidikan Anak Dipertaruhkan
Janji di baliknya sederhana dan menggoda: dengan model statistik yang lebih canggih, kesejahteraan bisa diukur secara objektif, bantuan tersalur tepat sasaran, dan sengketa soal siapa layak dibantu, yang selama ini mewarnai penyaluran bansos di tingkat desa, selesai oleh angka.
Saya berpendapat sebaliknya. Desil tidak menghapus persoalan distribusi keadilan sosial. Ia memindahkannya ke medan yang lebih sulit digugat karena kini bersembunyi di balik otoritas statistik.
Melihat seperti Negara
Antropolog James Scott, dalam Seeing Like a State (1998), mengamati bahwa negara modern gemar menyederhanakan realitas sosial yang rumit dan penuh nuansa lokal menjadi kategori administratif yang seragam, ringkas, dan mudah dihitung.
Ia menyebut proses itu legibility atau keterbacaan negara. Makin legible suatu populasi di mata negara, makin mudah ia dikendalikan, dipajaki, dan diberi bantuan, tetapi penyederhanaan itu selalu membuang detail yang justru menentukan hidup orang per orang.
BACA JUGA:Data Desil Banyak yang Tak Sesuai, BPS Diminta Perbaiki Data Desil dalam 2 Pekan
BACA JUGA:Cara Cek Desil DTSEN dengan NIK untuk Mengetahui Status Penerima Bansos
Desil adalah legibility dalam bentuk paling mutakhir: sepuluh kotak yang memaksa realitas rumah tangga yang berbeda-beda, nelayan musiman, pedagang harian, pensiunan tanpa tabungan, masuk ke satu skala angka yang bisa dibandingkan secara nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: