Hilirisasi Riset dan Peran Strategis Kampus Vokasi
ILUSTRASI Hilirisasi Riset dan Peran Strategis Kampus Vokasi.-Arya/AI-Harian Disway-
HILIRISASI kembali menjadi kata kunci tahun ini. Dalam pidato kenegaraan 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut 26 proyek hilirisasi telah dimulai melalui Danantara. Tiga belas proyek groundbreaking pada 6 Februari dan tiga belas lainnya pada 29 April.
Presiden juga menyampaikan rencana membeli perusahaan-perusahaan terbaik dunia demi memperoleh teknologi dan kekayaan intelektualnya.
Sebulan kemudian, di Universitas Airlangga, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menyodorkan angka yang terasa ironis. Indonesia menguasai sekitar 25 persen pangsa paten di ASEAN. Namun, monetisasinya baru sekitar 0,08 persen. Kita bersiap membeli teknologi dari luar negeri. Pada saat yang sama, banyak paten milik kita sendiri yang tertidur di laci.
Di titik itulah kampus diharapkan ikut mengambil bagian. Hilirisasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai mengolah bijih mineral menjadi produk turunan.
BACA JUGA:Pengembangan Riset Kolaborasi Internasional dengan Negara Miskin
BACA JUGA:Integritas Riset Kampus RI Diragukan
Hilirisasi juga harus mengubah pengetahuan dan hasil riset menjadi produk yang bernilai ekonomi. Namun, ada satu bagian dari ekosistem pendidikan tinggi yang jarang disebut dalam percakapan ini. Bagian itu adalah pendidikan vokasi.
Bukan Kekurangan Riset
Masalah hilirisasi kita bukan kekurangan hasil riset. Kemenko PMK mencatat lebih dari 60 persen paten nasional berasal dari perguruan tinggi dan lembaga riset. Pendanaannya juga tidak kecil.
Sepanjang Januari hingga April 2026 saja, Kemdiktisaintek menyalurkan Rp1,7 triliun untuk 18.215 kegiatan riset kampus. Khusus Program Hilirisasi Riset Prioritas, 925 proposal dari 2.488 usulan mendapat dana dengan total Rp318 miliar.
Persoalannya ada pada perjalanan sesudahnya. Global Innovation Index 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-55 dari 139 negara. Posisi itu sebenarnya sudah jauh membaik dari peringkat ke-87 pada 2021. Namun, jika dibedah, pilar sumber daya manusia dan riset kita berada di peringkat ke-92.
BACA JUGA:Produktivitas Riset Perguruan Tinggi di Indonesia di Tengah Efisiensi
BACA JUGA:Menggalakkan Riset Aksi untuk Kebermanfaatan Kampus
Pilar kecanggihan bisnis, yang salah satunya mengukur kolaborasi kampus dan industri, ada di peringkat ke-83. Kita cukup produktif menghasilkan invensi. Kita belum cakap mengantarkannya ke pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: