7 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ahli ITS: Bukan Fenomena Domino
Ahli Vulkanologi ITS Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng ajak masyarakat untuk mengenal aplikasi Magma Indonesia yang secara aktif memantau aktivitas gunung api di Indonesia.-Dok. ITS-
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Sebanyak 7 gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan pada akhir pekan lalu.
Fenomena tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa erupsi terjadi secara berantai atau seperti efek domino.
Erupsi diawali Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda pada Jumat, 4 September 2026 malam. Setelah itu, aktivitas erupsi juga terjadi di Gunung Ibu dan Dukono di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Sinabung di Sumatera Utara, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.
BACA JUGA:5 Bandara Kembali Dibuka, Abu Gunung Anak Krakatau Masih Tahan Dua Bandara Lampung
BACA JUGA:Erupsi Anak Gunung Krakatau, 54 Penerbangan di Bandara Juanda Batal
Namun, aktivitas tujuh gunung api tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya satu pemicu geologis yang sama.
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng menjelaskan, aktivitas vulkanik maupun tektonik merupakan bagian dari dinamika bumi.
Gempa bumi dan erupsi dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam waktu yang berdekatan tanpa harus saling berkaitan secara langsung.
Setiap gunung api juga memiliki karakteristik, sistem magma, dan siklus erupsi yang berbeda. Karena itu, aktivitas satu gunung tidak bisa disamakan dengan gunung lainnya.
BACA JUGA:Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, 624 Penerbangan Terdampak di Bandara Soekarno-Hatta
BACA JUGA:BMKG Pastikan Selat Sunda Aman, Belum Ada Indikasi Tsunami dari Erupsi Anak Krakatau
“Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” terang Haris.
Setiap Gunung Punya Sistem Magma Berbeda
Haris menerangkan, masing-masing gunung api mempunyai sistem dapur magma dan proses magmatisme yang independen. Kondisi tektonik di setiap wilayah juga berbeda.
Gunung Semeru dan Anak Krakatau, misalnya, sama-sama berkaitan dengan interaksi lempeng Asia-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia atau Sunda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: