Dari Kapal Niaga ke Kapal Besar NU

Dari Kapal Niaga ke Kapal Besar NU

ILUSTRASI Dari Kapal Niaga ke Kapal Besar NU.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kembali kepada Qanun Asasi

Salah satu gagasan utama Gus Kikin adalah menghidupkan kembali Qanun Asasi yang disusun KH Hasyim Asy’ari. Naskah tersebut dipandang bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan juga pedoman mengenai manhaj, fikrah, dan harakah NU.

Gagasan itu menarik. Di tengah NU yang makin besar, makin kaya jaringan, dan makin dekat dengan pusat kekuasaan, Gus Kikin justru mengajak organisasi kembali kepada fondasi awalnya.

Namun, kembali kepada Qanun Asasi tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah. Harus diterjemahkan ke dalam keberanian menjaga kemandirian NU, menegakkan etika kepemimpinan, memperkuat otoritas ulama, memberdayakan jamaah, serta mencegah organisasi menjadi kendaraan politik dan ekonomi segelintir orang.

Menghidupkan kembali warisan hadratusyaikh tidak berarti sekadar mencetak ulang kitabnya. Tetapi, juga menghidupkan kembali watak perjuangannya.

Kapal Besar Itu Tidak Boleh Salah Arah

Gus Kikin mewarisi PBNU setelah periode yang diwarnai ketegangan internal. Karena itu, tugas pertamanya tidak memperbesar organisasi, tetapi menyatukannya. Beliau harus membangun hubungan yang sehat antara syuriyah dan tanfidziyah, merangkul kelompok yang berbeda pilihan, serta memastikan bahwa kepengurusan baru tidak menjadi arena pembalasan.

Latar belakang pelayaran mengajarkan bahwa kapal besar tidak cukup hanya memiliki nakhoda yang berani. Kapal membutuhkan peta, kompas, awak yang solid, pembagian tugas yang jelas, dan kemampuan membaca perubahan cuaca.

NU pun demikian. Qanun Asasi dapat menjadi kompas moral. Syuriyah menjaga arah keagamaan. Tanfidziyah menggerakkan organisasi. Pesantren menjadi jangkar kebudayaan. Sementara itu, jamaah adalah alasan mengapa kapal tersebut harus terus berlayar.

Gus Kikin datang dengan silsilah yang terhormat, pengalaman manajemen, jaringan usaha, dan dukungan organisasi yang kuat. Semua itu merupakan modal, bukan jaminan keberhasilan.

Lima tahun mendatang akan menunjukkan apakah Gus Kikin mampu membawa etos profesional ke dalam NU tanpa mengubah NU menjadi perusahaan; mengembangkan ekonomi jamaah tanpa mencampuradukkan kepentingan organisasi dan bisnis; serta mendekatkan NU kepada negara tanpa membuatnya kehilangan suara kritis.

Gus Kikin pernah mengurus kapal niaga. Kini beliau memimpin kapal besar bernama NU. Tantangannya tidak hanya membuat kapal itu bergerak lebih cepat, tetapi juga memastikan tidak kehilangan arah –dan tetap berlayar menuju kemaslahatan umat. (*)

*) Ulul Albab adalah warga NU sejak dalam kandungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: