Ritual Karhutla: Terbakar, Padam, Ulangi Tanpa Inovasi
ILUSTRASI Ritual Karhutla: Terbakar, Padam, Ulangi Tanpa Inovasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Memadamkan karhutla seharusnya menjadi peristiwa luar biasa yang menandai adanya anomali lingkungan yang langka, bukan agenda rutin tahunan yang dimaklumi kehadirannya.
Menganggap bencana asap sebagai hal wajar yang datang bersama musim kemarau adalah bentuk kepasrahan berbahaya yang mengorbankan hak generasi mendatang atas udara bersih dan lingkungan hidup yang sehat.
Anggaran triliunan rupiah yang selama puluhan tahun habis disiramkan ke atas kobaran api sudah saatnya dialihkan untuk membangun benteng pencegahan permanen melalui restorasi lanskap, riset teknologi lingkungan terapan, dan reformasi penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu.
Masa depan udara Nusantara bergantung pada kemauan kita untuk meninggalkan cara lama yang terbukti gagal dan merangkul inovasi nyata yang menyentuh akar masalah.
Kita tidak bisa terus-menerus berharap hasil yang berbeda jika langkah yang kita ambil setiap tahun selalu sama persis. Sampai kapan kita akan terus membiarkan anak-anak kita menghirup pekatnya kabut asap sambil menyaksikan drama pemadaman yang sama diputar ulang di layar kaca?
Jawaban atas pertanyaan itu hanya ada pada satu kata, yaitu keberanian kita untuk menghentikan ritual usang tersebut dan beralih ke transformasi tata kelola lingkungan yang cerdas, berkeadilan, dan berkelanjutan. (*)
*) Hery Purnobasuki adalah guru besar FST, Universitas Airlangga, dan ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: