Ritual Karhutla: Terbakar, Padam, Ulangi Tanpa Inovasi

Ritual Karhutla: Terbakar, Padam, Ulangi Tanpa Inovasi

ILUSTRASI Ritual Karhutla: Terbakar, Padam, Ulangi Tanpa Inovasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah telah resmi menjadi agenda musiman yang jadwal kedatangannya hampir sepasti pergantian kalender. Setiap kali musim kemarau menyapa, langit di berbagai pelosok Nusantara mendadak berubah abu-abu pekat, aroma asap menyengat terhirup sampai ke paru-paru, dan layar gawai kita kembali dibanjiri foto-foto heroik para petugas yang berjibaku menyiram bara di tengah gambut yang membara.

Siklus itu terus berulang dari dekade ke dekade tanpa jeda yang benar-benar melegakan seperti lingkaran setan yang tiada henti. 

Kita menyaksikan narasi yang sama, retorika yang mirip, dan drama lapangan yang tidak bergeser sedikit pun: rapat koordinasi digelar tergesa-gesa, status tanggap darurat diumumkan dengan nada panik, armada helikopter sewaan diterbangkan untuk menjatuhkan berton-ton air, lalu semua orang bersorak lega ketika musim hujan akhirnya tiba memadamkan sisa api secara alami.

Pertanyaan mendasar yang pantas diajukan adalah sampai kapan kita membiarkan bencana lingkungan itu terus diperlakukan sekadar sebagai ritual tahunan tanpa sentuhan inovasi yang nyata? 

BACA JUGA:Sebanyak 52 Helikopter Tidak Cukup: Saatnya Doktrin Pencegahan Karhutla

BACA JUGA:Karhutla 2026 Lepas Jutaan Ton Emisi, Target FOLU Net Sink Indonesia Terancam Gagal

Jika sebuah krisis terjadi sekali, kita bisa memakluminya sebagai musibah yang tak terduga. Namun, ketika krisis yang persis sama terulang setiap dua belas bulan sekali dengan pola penanganan yang identik, itu bukan lagi kecelakaan alam, melainkan kegagalan sistemik dalam merombak cara berpikir kita.

Mengulang Pola yang Menjebak

Kelemahan paling mencolok dari penanganan kebakaran lahan selama ini terletak pada ketergantungan kita terhadap respons reaktif. Kita begitu bangga menggelar apel siaga dan memamerkan armada pemadaman setelah api sudah melahap ratusan hektare gambut. 

Padahal, memadamkan kebakaran di atas lahan gambut yang telah mengering sama saja dengan menuangkan air ke atas kompor menyala: api di permukaan mungkin tampak padam, tetapi bara di kedalaman beberapa meter tetap menjalar pelan tanpa terlihat mata.

Operasi pengeboman air dari udara yang menelan anggaran miliaran rupiah kerap berakhir menjadi sekadar tontonan mahal di media sosial. Guyuran air dari langit sering kali hanya membasahi pucuk-pucuk dedaunan atau lapisan atas tanah tanpa sanggup menembus rongga gambut yang telah kehilangan kelembapannya. 

Kita terus menghabiskan energi, anggaran negara, dan kesehatan warga demi tindakan darurat yang hasilnya sangat sementara. Di sisi lain, akar persoalan hidrologi gambut yang rusak tetap dibiarkan menganga.

Di saat yang sama, pendekatan hukum yang diterapkan kerap berhenti pada level operator di lapangan atau petani kecil yang sekadar mencari nafkah dengan cara paling murah. Aktor-aktor besar dengan penguasaan konsesi luas yang sengaja mengeringkan lanskap rawa melalui kanal-kanal raksasa kerap lolos dari jerat tanggung jawab pemulihan ekologis secara menyeluruh. 

Ketiadaan efek jera yang struktural itu membuat siklus pembakaran lahan tetap menjadi opsi bisnis yang menguntungkan bagi segelintir pihak, sedangkan kerugian ekologis dan kesehatan dibebankan ke pundak masyarakat luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: