E10 dan E20 Dikebut, Bioetanol Indonesia Dihadang Masalah Produksi hingga Pangan
Target E10 pada 2027 dan E20 pada 2028 mendorong produksi bioetanol, tetapi kesiapan pabrik, infrastruktur, bahan baku, petani, dan pangan masih menjadi PR.-Setpres-
HARIAN DISWAY - Pemerintah sedang tancap gas untuk urusan bioetanol. E5 baru saja diterapkan. Kini, target baru sudah dipatok: E10 pada 2027, lalu E20 menyusul pada 2028.
Kelihatannya gagah, modern, dan sangat ramah lingkungan. Tetapi, apakah kebijakan tersebut justru sedang memindahkan sebagian beban masalah ke pedesaan?
Gaya kebijakan energi nasional sering kali bergerak cepat. Persoalannya, kecepatan itu belum tentu sejalan dengan kesiapan ekosistem.
Ambil contoh hitung-hitungan di atas kertas. Kebutuhan bioetanol untuk penerapan E10 secara teoritis mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun, dengan asumsi konsumsi bensin nasional mencapai 40 juta kiloliter.
"Ini adalah skala produksi yang sangat masif," ujar Pakar Konversi Energi dan Bioenergi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Sudarmanta kepada Harian Disway, Minggu, 20 September 2026.
Di situlah paradoks strukturalnya. Kapasitas produksi fuel-grade ethanol di dalam negeri sebelumnya tercatat baru sekitar 63 juta liter per tahun.
BACA JUGA:Menuju E10 & E20, Pakar ITS Ungkap Tantangan Ekosistem Bioetanol Nasional
BACA JUGA:Pertamina NRE Kembangkan Bioetanol dari Sorgum hingga Biomassa
Jika kapasitas pabrik masih terbatas dan bahan bakunya belum mencukupi, dari mana pasokan bioetanol dalam jumlah besar akan dipenuhi secara konsisten?
Transisi energi hijau kerap terjebak pada simbol. Terlihat ramah lingkungan dalam laporan tahunan, tetapi ekosistem pendukungnya belum tentu kokoh.
Bambang mengingatkan bahwa etanol memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda dari bensin fosil konvensional.
Etanol memang memiliki angka oktan tinggi. Karakteristik tersebut baik untuk meningkatkan ketahanan mesin terhadap knocking sekaligus membuka peluang optimalisasi rasio kompresi.
Namun, kandungan energi per satuan volume atau nilai kalor etanol lebih rendah dibandingkan bensin.
Konsekuensinya, untuk menghasilkan daya yang setara pada kondisi tertentu, mesin membutuhkan volume bahan bakar yang lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: