Cemas Antara IKU, Mutu, dan Kecemburuan Sosial

Cemas Antara IKU, Mutu, dan Kecemburuan Sosial

ILUSTRASI Cemas Antara IKU, Mutu, dan Kecemburuan Sosial.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Terkait isu kesetaraan gender, alasan merawat/mengasuh anak sebagai tugas perempuan tidak lagi berlaku bagi prioritas studi lanjut. Jalur S-1 RPL memang lebih banyak diminati kaum ibu. 

Sedangkan untuk program S-2 RPL lebih seimbang antara peminat pria maupun wanita. Siapa pun yang berangkat studi lanjut melalui program S-2 RPL itu bersepakat untuk tetap (tidak mengubah intensitas) menjalankan tugas merawat/mengasuh anak-anak mereka di rumah. 

Sering kali keputusan terakhir adalah siapa pun yang secara ikhlas dengan penuh kesadaran mengizinkan istri/suami mengikuti program S-2 RPL tersebut, dialah yang mengalah untuk bisa lebih fokus pada kesejahteraan keluarga. 

Indahnya cerita-cerita drama keluarga dengan latar belakang studi lanjut tersebut adalah yang bertajuk berangkat bersama, sukses bersama, dan risiko ditanggung bersama. 

Membahas tentang Target Nasional 2024/2025 pada indikator kinerja tambahan PT/IKT untuk persentase mahasiswa yang lulus tepat waktu adalah > 80 persen. Target itu untuk memacu para dosen pembimbing tugas akhir/skripsi agar segera meluluskan mahasiswanya, juga menekan halus koordinator program studi untuk memadatkan kurikulumnya. 

PR itulah yang menumbuhkan kecemasan para pemerhati serta pelaku pendidikan. Cemas karena di satu sisi harus mencapai IKU-1, tapi di sisi lain juga harus patuh pada target nasional. Terutama bagi dosen pelaku (pembimbing) mahasiswa program RPL.  

Kenangan terindah yang dialami dosen pembimbing mahasiswa baik S-1 maupun S-2 RPL adalah saat mahasiswa bimbingannya tersebut berhasil menjalankan proses kuliah dengan cepat, tepat, menguasai materi perkuliahan, hingga saat pembimbingan tugas akhir mereka. 

Lebih membanggakan lagi adalah saat ujian seminar hasil, mahasiswa dapat mempresentasikan hasil penelitiannya dengan baik, menguasai materi konsep keilmuan, menggunakan kecanggihan teknologi dengan bijaksana, berliteratur (menyitasi) hasil-hasil penelitian dari jurnal internasional bereputasi, mampu mendiskusikan hasil penelitian secara komprehensif, outfit-nya juga menarik, dan sukses memperoleh nilai istimewa.  

Sebaliknya, tak dapat dimungkiri bahwa perasaan sedih, kecewa, kesal, dan kepahitan lain pasti dialami juga oleh dosen pembimbing mahasiswa program RPL itu, terutama saat ujian seminar proposal maupun ujian seminar hasil. 

Tak jarang dosen harus berperan sebagai pembela yang bijaksana, padahal sebenarnya telah menjadi korban (perasaan) atas ketidaksiapan mahasiswa secara keilmuan, kecerdasan eksistensial dasar, kecerdasan personal, juga tingkat intelektualnya. 

Belum lagi adanya masalah kecil tapi banyak, yaitu pemahaman beberapa mahasiswa yang lemah terhadap prosedur/tata cara pelaksanaan pembimbingan, ujian tugas akhir, hingga proses kelulusannya, meskipun para koordinator program studi sudah cukup gigih melatih dan menjelaskannya, bahkan tidak hanya sekali. 

Berdasarkan diskusi-diskusi informal antardosen pembimbing akademik maupun dosen pembimbing tugas akhir di beberapa prodi S-1 maupun S-2 yang menyelenggarakan program RPL, dapat ditarik kesimpulan bahwa selama proses pembimbingan tugas akhir mahasiswa RPL, rata-rata dosen mengalami keprihatinan terhadap mutu lulusan atas heterogenitas kemampuan intelektualnya, karakteristiknya, kecerdasan eksistensial dasarnya, juga cukup tertekan dalam memilih prioritas antara proses atau hasil. 

Bila mengutamakan proses, dosen secara profesional harus bertindak praktis humanistis sesuai tuntutan IKU-1. Namun, bila berorientasi pada hasil yang sesuai target nasional, dosen harus menuntaskan kelulusan mahasiswa bimbingannya pada waktu yang ditentukan, bagaimanapun hasilnya. 

Realitasnya bahwa tidak semua hasil yang diwujudkan dalam bentuk skor (angka) pada SSO itu representatif terhadap mutu/kualitas capaian akademik mahasiswanya selama menempuh perkuliahan di program RPL. 

Masih ada lagi masalah-masalah terkait program tersebut yang bermunculan hingga membebani perasaan dosen dalam pergaulan sosial dengan masyarakat umum, yang cemburu terhadap mahasiswa RPL atas keringanan, kecepatan, atau kemudahan, bahkan kemurahan yang diterimanya selama kuliah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: