Komunikasi, Solidaritas, dan Negara saat Bencana

Komunikasi, Solidaritas, dan Negara saat Bencana

ILUSTRASI Komunikasi, Solidaritas, dan Negara saat Bencana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Pelajarannya bukan bahwa warga dapat menggantikan negara. Justru sebaliknya, solidaritas adalah kapasitas sosial yang akan jauh lebih kuat bila bertemu dengan institusi publik yang mampu mengarahkan, menghubungkan, dan memfasilitasi.

Prinsip yang sama terlihat dengan menempatkan negara memiliki peran utama dalam pengurangan risiko bencana, tetapi pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan pemerintah lokal, masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, media, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dari Solidaritas Menuju Ketangguhan

Karena itu, BPBD idealnya tidak hanya dikenal ketika bencana sudah terjadi. BPBD dapat menjadi pusat pengetahuan kebencanaan di daerah. Tempat warga belajar memahami risiko, melakukan simulasi, membangun jejaring relawan, berlatih komunikasi darurat, dan menghubungkan pengetahuan pemerintah dengan pengalaman warga.

Di sinilah harapan masyarakat kepada negara memperoleh bentuknya. Masyarakat tidak selalu meminta negara melakukan semuanya. Warga justru membutuhkan negara yang mampu memberi arah, memastikan informasi, menyediakan sistem koordinasi, dan membuat berbagai kekuatan sosial dapat bekerja bersama.

Negara yang kuat bukan negara yang bekerja sendirian. Masyarakat yang kuat juga bukan masyarakat yang berjalan tanpa negara. Ketangguhan lahir ketika kapasitas negara bertemu dengan solidaritas warga, pengetahuan ilmiah, teknologi, dan komunikasi yang dipercaya.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan bencana bukan soal siapa yang paling terlihat di lapangan. Ukurannya jauh lebih manusiawi: seberapa cepat warga diselamatkan, seberapa tepat bantuan diberikan, seberapa baik risiko dipahami, dan seberapa jernih informasi disampaikan.

Bencana adalah urusan kemanusiaan. Saat bencana datang, komunikasi harus memberi arah, solidaritas harus menggerakkan, dan negara harus memastikan bahwa tidak seorang pun menghadapinya sendirian. (*)

*) Ade Kusuma adalah dosen ilmu komunikasi, FISIP, UPN ”Veteran” Jawa Timur, dan pengurus ISKI Jawa Timur.

*) Suko Widodo, dosen komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, dan ketua ISKI Jawa Timur.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: