Hasil Awal Pemilu AS Tekan Pasar Global, Saham Teknologi dan Dolar Melemah

Hasil Awal Pemilu AS Tekan Pasar Global, Saham Teknologi dan Dolar Melemah

Para pendukung menyaksikan layar yang menampilkan hasil awal saat mereka berkumpul dalam acara malam pemilihan untuk Senator AS Jon Ossoff (Demokrat-Georgia), kandidat dari Partai Demokrat yang mencalonkan diri kembali, selama pemilihan paruh waktu AS di -Carlos Barria-Reuters

HARIAN DISWAY – Pasar keuangan global bergerak melemah pada Rabu, 4 November 2026, setelah hasil sementara pemilu sela Amerika Serikat (AS) mengindikasikan kemenangan Partai Demokrat. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan kendali politik dalam Kongres AS.

Kontrak berjangka saham AS mengalami tekanan, sementara obligasi pemerintah menguat dan dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Investor mulai memperhitungkan dampak jika Demokrat berhasil memperbesar pengaruhnya di Kongres dan membatasi ruang kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Di North Carolina, mantan gubernur Roy Cooper mengalahkan Michael Whatley, kandidat Partai Republik yang didukung Trump. Kemenangan tersebut membuat Demokrat merebut satu kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Republik.

Sementara itu, Jon Ossoff berhasil mempertahankan kursinya sebagai senator dari Georgia. Demokrat juga diperkirakan memiliki peluang besar untuk menguasai House of Representatives. 

BACA JUGA:Dominasi PM Benjamin Netanyahu Berpotensi Digeser Oposisi Israel dalam Pemilu

BACA JUGA:Masih Terus Gaet Simpati Jelang Pemilu Sela, Presiden Trump Gratiskan Premi Medicare Lansia

Charu Chanana, analis strategi investasi Saxo, menilai pergerakan pasar menunjukkan investor mulai memperhitungkan kemungkinan kemenangan Demokrat yang lebih besar dari perkiraan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ekspektasi terhadap stimulus fiskal tambahan dari pemerintah AS.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,8 persen, sedangkan Nasdaq melemah lebih dalam sebesar 1,8 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 6 basis poin menjadi 4,906 persen.

Pelemahan Nasdaq mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan pengawasan regulasi yang lebih ketat terhadap perusahaan teknologi besar dan industri kecerdasan buatan (AI). Investor sebelumnya telah mempertanyakan tingginya valuasi perusahaan teknologi serta besarnya investasi untuk pengembangan AI.

Meski demikian, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah berpotensi memberikan dukungan bagi pasar saham. "Tekanan jual pada awal perdagangan belum tentu berlangsung dalam jangka panjang," ungkap Chanana.

BACA JUGA:IHSG Tertekan Sentimen Global dan Net Sell Rp4,1 T, Mampukah Bertahan di Atas 5.000 Pekan Ini?

BACA JUGA:Gejolak AS-Iran dan Demo Domestik Hantam Rupiah, Ini Proyeksi Pekan Depan

Di kawasan Asia, indeks saham juga berbalik melemah meskipun sebelumnya sempat menguat. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,5 persen. Indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 1,6 persen, sedangkan Nikkei Jepang merosot 3 persen setelah kembali diperdagangkan usai libur.

Pelemahan tersebut terjadi meskipun produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) mencatatkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar. Hasil tersebut sempat memberikan dorongan positif terhadap saham teknologi, tetapi belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran investor mengenai prospek industri AI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: