Gejolak AS-Iran dan Demo Domestik Hantam Rupiah, Ini Proyeksi Pekan Depan
Mata uang rupiah di tengah mata uang dolar.-Bloomberg-
JAKARTA, HARIAN DISWAY- Pasar keuangan kembali bergejolak di penghujung pekan, Jumat, 30 Oktober 2026.
Nilai tukar rupiah harus rela ditutup melemah 10 poin ke level Rp18.147 per dolar AS. Setelah sebelumnya sempat mencatat penguatan tipis 35 poin.
Tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut tidak datang sendiri. Laju rupiah dibayangi oleh kombinasi sengit antara eskalasi geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, serta sentimen domestik dari gelombang protes mahasiswa di tanah air.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memaparkan, dari kancah eksternal, pasar diwarnai kepanikan menyusul laporan The Wall Street Journal. Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, dikabarkan telah membeberkan opsi militer terhadap Iran kepada Presiden Donald Trump di Gedung Putih, didampingi Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
BACA JUGA:IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098, Rupiah Melemah dan Investor Asing Kabur, Kenapa?
BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp18.184 per Dolar AS Iringi Demo 28 Oktober 2026 di Bundaran HI
Pertemuan itu membahas blokade lanjutan serta potensi dimulainya kembali operasi tempur skala besar. Ketegangan kian meruncing setelah Trump mengisyaratkan serangan baru berpotensi dilancarkan usai pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Upaya diplomasi yang digalang Wakil Presiden AS JD Vance dengan menghubungi pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, sempat ditempuh. Namun, Teheran dilaporkan menolak usulan kerangka kerja damai tersebut, membuat prospek penyelesaian konflik kian buram. Situasi kian runyam setelah Saudi Press Agency melaporkan sistem pertahanan udara Arab Saudi sukses mencegat rudal balistik Houthi asal Yaman yang mengarah ke Provinsi Timur kerajaan.
Di tengah panasnya tensi global, data ekonomi AS justru menunjukkan ketangguhan. Indeks Harga PCE inti tercatat naik 0,3% secara bulanan, sementara inflasi inti tahunan merangkak ke angka 3,1% dari sebelumnya 3,0% di bulan Agustus.
Tidak hanya itu, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga AS melompat di angka 3,4% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar di level 3,2%. "Data kuat ini langsung mendongkrak ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) pada Desember mendatang, di mana CME FedWatch Tool mencatat probabilitas kenaikan hingga 83%," kata Ibrahim Jumat sore.
Dari dalam negeri, ketidakpastian ekonomi turut dipicu oleh dinamika politik akibat aksi protes mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober. Aksi-aksi tersebut mencerminkan kritik tajam terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari penanganan kebakaran hutan, isu lingkungan, hingga alokasi anggaran negara.
"Stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor," ujar Ibrahim dalam catatannya. Pemerintah didorong untuk memperluas ruang dialog, mengevaluasi tuntutan massa, serta memastikan situasi kondusif agar aliran investasi tidak terganggu.
Jika ketidakpastian ini berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan perekonomian nasional dikhawatirkan semakin membengkak.
Selain faktor politik, investor kini tengah memasang kuda-kuda menghadapi rilis data inflasi Oktober yang diumumkan pekan depan. "Inflasi tinggi, ditambah lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah, berpotensi mengerek biaya produksi serta menggerus daya beli masyarakat secara signifikan," papar Ibrahim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: