Eksplorasi Tekstur dan Warna Malya Sasmaya dalam Dialog Batik Madura

Eksplorasi Tekstur dan Warna Malya Sasmaya dalam Dialog Batik Madura

Malya Sasmaya bersama karya lukisnya yang bertajuk Tanjung Bumi dalam pameran Dialog Batik Madura, Sabtu, 26 September 2026-Rossa Handini-Harian Disway

Dalam proses kreatifnya, Malya menggunakan lem sejenis akrilik untuk membuat kain batik menjadi kaku. Teknik itu digunakannya untuk menghadirkan dimensi dalam karyanya. Dengan demikian, kreasinya jadi bertekstur.

Bahan-bahan untuk membuat kreasi Batik Madura dalam pamerannya, diperoleh Malya dari toko-toko batik. Dia membeli langsung setelah memilih-milih di lokasi.

Malya mengerjakan delapan karyanya dengan sepenuh hati. Karena itu, masing-masing punya kesan yang personal baginya. Dia berharap, karyanya juga bisa menyentuh perasaan para pengunjung. Setidaknya, membuat merek menyadari betapa kayanya warisan budaya Nusantara.

BACA JUGA:Diskusi Publik Jadi Pemanasan ARTSUBS 2026: Seniman Perlu Berpameran, Berjejaring, dan Terus Berkarya

BACA JUGA:Kian Menikmati Outdoor Painting, SBY Pamerkan 100 Lukisan di Surabaya


PENGUNJUNG menikmati karya Malya Sasmaya pada Sabtu, 26 September 2026. Ada yang berupa lukisan, ada pula yang kolase. -Rossa Handini-Harian Disway

Arik Wartono, kurator Sanggar Daun, mengatakan bahwa Malya adalah seniman yang unik. Kendati Dialog Batik Madura adalah pameran lukisan, pengunjung tidak hanya akan menjumpai lukisan saja.

Malya mengkreasikan kain batik dengan beragam cara. Ada yang dilipat, dibentuk menggunakan teknik drapery, dibiarkan utuh, atau direspons langsung dengan media lukis. 

Dalam proses penggarapan di atas kanvas, Malya menerapkan berbagai metode penjelajahan visual. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah teknik kolase. 

Malya juga mengeksplorasi warna merah dengan memberikan garis pembatas (border) berwarna hijau, biru, dan kuning di bagian tepi. 

BACA JUGA:KOSERUYA, Pameran Lukisan Pertama di Galeri Surabaya Urban Creative Hub

BACA JUGA:Pameran Lukisan NdugHal Karya Daniel Kho, Ungkap Dinamika Kehidupan Dari Proses hingga Pencerahan

Arik menafsirkan batas tersebut sebagai garis pantai. Namun, publik bebas menafsirkan makna border tersebut sesuai pemahaman masing-masing. "Karena dia menangkap spiritnya, spirit warna, spirit keberanian," ungkapnya. 

Melalui pameran tersebut, Malya berharap masyarakat luas kian mencintai dan melindungi warisan budaya. Tidak harus lewat seni rupa, bisa juga melalui tata busana. 

"Batik itu sesuatu yang harus kita lindungi, karena itu menjadi sebuah identitas dalam diri kita," tegas Malya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: