Ketika Meme Lebih Jujur daripada Pidato
ILUSTRASI Ketika Meme Lebih Jujur daripada Pidato.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Yang dibutuhkan adalah negara mampu membaca apa yang tersirat di balik meme. Sebab, di balik meme tentang harga mungkin ada keluarga yang sedang mengurangi lauk-pauk. Di balik meme tentang birokrasi mungkin masih ada perizinan yang berbelit. Di balik meme tentang bantuan sosial mungkin ada warga yang merasa tidak dilihat oleh negara.
Negara boleh memiliki dashboard dengan berbagai indikator. Namun, rakyat memiliki satu indikator yang jauh lebih sederhana: apakah hari ini terasa lebih baik daripada kemarin?
Di situlah kredibilitas negara sedang dipertaruhkan. Bukan di podium. Bukan pula dalam presentasi Powerpoint. Melainkan di warung kopi, pasar, dan antrean SPBU.
Jika negara berbicara tentang rakyat, sementara rakyat merasakan hal yang berkebalikan, yang muncul bukan sekadar expectation gap. Yang tumbuh adalah jarak psikologis.
Pun, sebelum jarak itu berubah menjadi ketidakpercayaan, barangkali ada baiknya pemerintah sesekali berhenti berpidato sejenak, lalu ”berkaca” pada meme rakyatnya sendiri. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: