Energi Bersih, Industri, dan Kemandirian Indonesia
ILUSTRASI Energi Bersih, Industri, dan Kemandirian Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Sekarang pertanyaan mengenai listrik datang makin awal dan makin terperinci. Apakah kapasitasnya tersedia? Seberapa andal pasokannya? Berapa tarifnya? Apakah kapasitas dapat ditambah ketika pabrik berekspansi? Dan, makin sering muncul satu pertanyaan lagi: apakah energi bersihnya dapat dibuktikan?
Pertanyaan terakhir berkaitan langsung dengan perubahan pada rantai pasok global. Banyak perusahaan memiliki target dekarbonisasi sendiri dan harus mempertanggungjawabkan emisi dari kegiatan produksi mereka.
Akses terhadap energi bersih kemudian ikut menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi investasi. Bagi kawasan industri, kualitas infrastruktur energi mulai sejajar dengan infrastruktur fisik lainnya.
Kawasan industri mempunyai karakter yang menarik untuk perencanaan energi karena permintaan terkonsentrasi. Puluhan, bahkan ratusan, perusahaan berada dalam satu wilayah.
Beban listrik, jam operasi, rencana ekspansi, serta kebutuhan energi bersih dapat dipetakan dengan lebih baik dibandingkan dengan permintaan yang tersebar. PLTS, BESS, jaringan, sistem manajemen energi, dan kebutuhan perusahaan di dalam kawasan dapat dirancang dengan mempertimbangkan profil permintaan yang sebenarnya.
Hal tersebut juga berpengaruh terhadap pembiayaan. Banyak proyek energi terbarukan yang menghadapi kesenjangan antara potensi dan investasi. Sumber energinya tersedia, teknologinya ada, tetapi proyek tersebut belum tentu layak didanai.
Kepastian pengguna listrik, struktur offtake, kesiapan jaringan, perizinan, biaya modal, dan pembagian risiko sering kali lebih menentukan daripada potensi teknis semata.
Pembicaraan selama rangkaian UNGA 81 memperlihatkan persoalan yang serupa. Pembiayaan terus muncul ketika diskusi beralih dari target ke implementasi. Dalam konteks energi, modal akan mencari proyek yang memiliki permintaan yang jelas, risiko yang dapat diukur, tata kelola yang memadai, dan jalur implementasi yang masuk akal.
Di sini gagasan renewable energy zone menjadi menarik bagi Indonesia. Sumber energi, transmisi, penyimpanan, lahan, dan kebutuhan pengguna dapat direncanakan dalam satu wilayah atau koridor pengembangan. Kawasan industri dapat menjadi salah satu simpul karena permintaan listrik dalam skala besar bertemu langsung dengan kegiatan produksi dan investasi.
Dengan cara pandang tersebut, kawasan industri tidak ditempatkan sebagai penerima listrik pada ujung sistem. Data permintaannya justru dapat menjadi salah satu masukan untuk menentukan di mana pembangkit, jaringan, gardu induk, dan penyimpanan energi perlu dibangun.
Energi Surya, Baterai, dan Rantai Pasok Baru
Baterai membawa dimensi industri yang menarik bagi Indonesia. Pertumbuhan BESS secara global akan meningkatkan permintaan terhadap mineral, sel baterai, modul, power conversion system, perangkat lunak, integrasi sistem, hingga jasa operasi dan pemeliharaan. Pada tahap berikutnya, akan tumbuh pula kebutuhan akan daur ulang dan pengelolaan baterai pada akhir masa pakainya.
Indonesia memiliki posisi yang khas karena berada di dua sisi sekaligus: memiliki sumber daya mineral yang penting bagi industri baterai dan berpotensi menjadi pasar penyimpanan energi yang besar. Kesempatannya, karena itu, tidak berhenti pada ekstraksi mineral.
Rantai nilai yang lebih panjang memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar. Namun, pasar global juga bergerak menuju tuntutan yang lebih tinggi terhadap jejak karbon, keterlacakan material, kondisi tenaga kerja, keselamatan, hubungan dengan masyarakat, dan daur ulang.
Di bagian itulah, prinsip ESG relevan secara praktis. Bukan sebagai label tambahan pada proyek energi, melainkan sebagai bagian dari kualitas rantai pasok dan pengelolaan industri yang makin diperhatikan oleh investor serta pembeli global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: