Energi Bersih, Industri, dan Kemandirian Indonesia
ILUSTRASI Energi Bersih, Industri, dan Kemandirian Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih relevan daripada sekadar menghitung berapa banyak panel surya atau baterai yang telah dipasang.
Indonesia memiliki sumber daya, pasar, pertumbuhan permintaan, dan basis industri yang cukup besar. Yang perlu dipertemukan sekarang adalah lokasi pembangkit dengan jaringan, jaringan dengan penyimpanan energi, penyimpanan dengan pola permintaan, serta rencana pembangunan energi dengan arah pertumbuhan industri.
Jalan raya, pelabuhan, telekomunikasi, air, dan kawasan industri telah membentuk lanskap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama beberapa dekade. Infrastruktur energi akan makin menentukan geografi di masa depan.
Ketersediaan listrik, keandalan jaringan, kemampuan penyimpanan, harga energi, dan akses terhadap energi bersih akan turut menentukan ke mana investasi mengalir dan di mana industri baru tumbuh.
Dalam dunia yang makin sulit diprediksi, kemampuan menghasilkan lebih banyak energi dari sumber domestik memberi Indonesia ruang yang lebih besar untuk menghadapi guncangan dari luar. Namun, kapasitas pembangkit saja tidak cukup. Energinya harus dapat disimpan saat diperlukan, disalurkan ke tempat yang membutuhkan, dan tersedia dengan harga yang wajar.
Itulah pekerjaan besar transformasi energi Indonesia: memastikan energi terbarukan benar-benar bekerja untuk industri dan perekonomian. (*)
*) Didik Prasetiyono, wakil ketua umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI); peserta Global Solar and Battery Storage Industry Associations Gathering 2026 dan Third Roundtable on Powering the Renewable Energy Future di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: