Antara Horner dan Coletta: Siapa Sosok Paling Pas Pimpin Scuderia Ferrari?
Anronello Coletta, penanggung jawab program balap Ferrari Endurance, kandidat pilihan internal Ferrari. --Twitter Ferrari Focus @Scuderiascoop
HARIAN DISWAY - Maranello kembali membara di tengah krisis performa dan ketegangan internal Scuderia Ferrari pada musim 2026. Posisi Fred Vasseur kini berada di ujung tanduk menyusul ketidakharmonisan hubungan manajemen dan keterbatasan teknis mobil SF26.
Di tengah ketidakpastian tersebut, panggung Formula 1 dihebohkan oleh munculnya nama-nama kandidat kuat mulai dari Christian Horner hingga Antonello Coletta, yang digadang-gadang siap mengambil alih kemudi kepemimpinan di markas ikonik Italia tersebut.
Setelah ramai diberitakan bahwa posisi Fred Vasseur berada di ujung tanduk paling cepat pada akhir musim 2026, nama Christian Horner mendadak mencuat. Mantan bos Red Bull Racing yang mundur pada 2025 itu dikabarkan santer berminat merapat ke Maranello.
Namun, kabar dari internal Ferrari menyebutkan adanya opsi lain, yaitu Antonello Coletta. Saat ini, Coletta dinilai sukses memimpin program Ferrari AF Corse di ajang World Endurance Championship (WEC).
Secara internal, Fred Vasseur menuai kritik tajam akibat minimnya prestasi. Padahal, ia diberikan kebebasan penuh memboyong sejumlah figur penting ke Maranello, mulai dari Jerome D'Ambrosio (Wakil Direktur Tim) hingga Loic Serra (Direktur Teknis), yang keduanya dibajak dari Mercedes.
BACA JUGA:Bangkitnya Sang 'Silver Arrow': Momen George Russell Bungkam Keraguan di F1 GP Azerbaijan
BACA JUGA:Ferrari SF-26 di GP Azerbaijan: Sasis Kedodoran, Hanya Leclerc yang Tersisa
Pria asal Prancis berusia 58 tahun itu memang menikmati kebebasan bertindak, meski hubungannya dikabarkan tegang dengan CEO Ferrari, Benedetto Vigna. Vigna menjadi penentang utama Vasseur di internal tim, walau bukan satu-satunya.
Banyak staf di Maranello yang mengkritik sikap egois Vasseur sampai-sampai dijuluki 'Napoleon'. Kritik tersebut menyoroti minimnya kehadiran Vasseur di markas, fokusnya pada kepentingan pribadi, kedekatannya yang berlebihan dengan Charles Leclerc, serta minimnya rasa tanggung jawab atas pernyataan publiknya.
Rumitnya Mencari Pengganti Vasseur
Kendati tekanan terus menguat, menggantikan Vasseur bukan perkara mudah. Kontraknya baru berakhir pada akhir musim 2027 dan kandidat penerusnya dianggap kurang meyakinkan, kecuali Horner.
Belakangan ini, Elkann dan Vigna berupaya membujuk Antonello Coletta, penanggung jawab program balap ketahanan sekaligus salah satu sosok paling loyal di Maranello. Namun, Coletta untuk sementara menolak tawaran mengisi posisi Vasseur.

Maurizio Arrivabene, bos tim Ferrari era 2015-2018 yang namanya dirumorkan sebagai opsi pengganti Fred Vasseur. --Twitter CL16 inside @CL16_inside
Coletta menyadari keterbatasan pengalamannya dalam mengelola tim Formula 1. Ia menjabat sebagai Kepala Sporting Activities pada 2014 sebelum akhirnya dialihkan ke cabang balap endurance.
Kontras keberhasilan Coletta membawa Ferrari meraih hattrick kemenangan di Le Mans 24 Jam bersama tiga tim berbeda, berbanding terbalik dengan performa tim F1. Ferrari justru tampil mengecewakan di GP Kanada dan sepanjang musim 2025.
Di sisi lain, Christian Horner dikabarkan telah memantau situasi ini dan tertarik mengambil alih kendali di Maranello. Selain Horner, beberapa nama lain ikut mencuat, seperti Massimo Rivola (Aprilia) serta mantan Bos Tim Ferrari periode 2015–2018, Maurizio Arrivabene, meski opsi memanggil kembali Arrivabene tergolong hampir mustahil.
BACA JUGA:Paddock Ferrari Memanas: Fred Vasseur Diisukan Mundur, Skenario Suksesi Disiapkan
BACA JUGA:Cadillac F1 Tunjukkan Taring di Baku, Resmikan 3 Eks Insinyur Juara Dunia
Rapor Maurizio Arrivabene di Scuderia Ferrari (2015–2018)
- 14 Kemenangan GP: 13 kemenangan dicetak Sebastian Vettel dan 1 oleh Kimi Raikkonen. Kemenangan perdana Arrivabene dipersembahkan oleh Vettel di GP Malaysia 2015, sekaligus mengakhiri dahaga kemenangan Ferrari selama 34 balapan.
- 71 Podium: Finis di posisi tiga besar.
- 12 Pole Position
- 3 Kali Runner-up Klasemen Konstruktor: Musim 2015, 2017, dan 2018, serta peringkat ke-3 pada 2016.
Dampak dan Rekam Jejak Manajerial Arrivabene:
- Restrukturisasi Internal: Arrivabene mengambil alih Ferrari setelah musim 2014 yang terpuruk tanpa satu pun kemenangan. Ia berhasil membakar kembali moral tim, memangkas birokrasi, dan membangun atmosfer kerja yang kondusif bagi para insinyur.
- Menempel Ketat Mercedes: Di tengah dominasi mutlak era mesin turbo-hibrida Mercedes, Ferrari di bawah Arrivabene (bersama Direktur Teknis saat itu, Mattia Binotto) menjadi satu-satunya tim yang mampu memberikan perlawanan sengit pada musim 2017 dan 2018.
Masa kepemimpinan Arrivabene berakhir pada awal 2019 setelah kegagalan merebut gelar juara pada 2018 yang diwarnai kesalahan strategi, dan dinamika ketegangan manajemen internal.
Kendala Teknis Membuyarkan Musim 2026
Seperti biasa, akar masalah Ferrari terletak pada keterbatasan teknis. Mobil SF26 mengalami kendala serius pada daya mesin dan aerodinamika, sehingga para pembalap kesulitan memaksimalkan potensinya meskipun beberapa paket pembaruan teknis telah dihadirkan sepanjang musim 2026.
Vasseur dinilai tidak mampu menang, kurang meyakinkan, dan tidak memiliki mitra manajemen yang kompeten dalam urusan balap.
Orang-orang di sekitarnya menggambarkan Vasseur dalam kondisi lelah secara mental dan fisik. Ia bahkan berpotensi mengambil keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri secara sukarela di akhir musim.
Realitasnya, seperti yang disindir Horner tentang Maranello, Ferrari terlalu sering melakukan perombakan arah strategi yang justru memicu kekhawatiran internal.
Dari segi unit power, Ferrari dipastikan tertinggal jauh pada 2026 karena pembaruan mesin berdasarkan regulasi ADUO ke-2 baru diizinkan penggunaannya pada 2027.
Di bawah batasan anggaran (budget cap) 2026, target paling realistis bagi Ferrari saat ini adalah mengamankan posisi runner-up di klasemen konstruktor.
Mengenai peluang Lewis Hamilton yang berada di peringkat ketiga klasemen pembalap, perburuan gelar juara 2026 kini hanya bergantung pada keajaiban. Ia tertinggal 37 poin dari George Russell di posisi kedua yang tampil makin konsisten, serta terpaut jauh 103 poin dari Kimi Antonelli di puncak klasemen.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: