Mas Wali
ILUSTRASI WALI KOTA Blitar Syauqul Muhibbin (kiri) bersama Anang Kurniawan (PCNU), Arif Afandi, serta KH M. Muqorrobin (ketua PCNU) dan Akhsin Alfata (sekretaris PCNU) di coffee lounge Tugu Lestari Hotel, Blitar.-Arif Afandi untuk Harian Disway -
INI kunjungan ke Blitar yang sangat efektif. Tadinya hanya mengagendakan bertemu Bupati Riyanto. Tapi, ternyata bisa ngobrol panjang dengan Wali Kota Syauqul Muhibbin. Ia wali kota Blitar pertama dari kalangan santri.
Ia pernah mondok di Ponpes Denanyar, Jombang. Lalu, kuliah di IAIN Sunan Kalijaga –kini UIN– Yogyakarta. Lantas, menjadi ASN di KPU Pusat Jakarta. Kemudian, balik kampung. Diusung PKB. Menantang pasangan yang diusung PDI Perjuangan.
Saya sempat menghubunginya bulan lalu. Untuk bertemu. Kali ini tak ada rencana. Malah berjumpa saat saya bertemu dengan Ketua PCNU Blitar KH M. Muqorrobin dan Sekretaris Akhsin Alfata. Juga, Rektor UIN Kediri Wahidul Anam. Ngopi sampai dini hari di Tugu Hotel.
”Mas Wali, saya baca berita kok sedang ada masalah dengan wakil njenengan?”
BACA JUGA:Terlalu, ATM PKH Nenek 63 Tahun di Blitar Dikuras Orang Tak Bertanggung Jawab
BACA JUGA:Pembangunan Ulang Kelenteng Poo An Kiong Blitar Rampung, Pengurus Gelar Ritual Pembersihan
”Ya. Biasa senior. Dinamika,” katanya. Ia lantas menjelaskan panjang lebar latar belakang proses pencalonan dengan wakilnya. Juga, kenapa masalah tersebut muncul.
Wakil wali kota Blitar itu perempuan. Namanya unik: Elim Tyu Samba. Sepintas seperti orang luar Jawa. Tapi, ternyata asli Blitar. Ia pernah menjadi calon anggota legislatif dari Gerindra.
Saya jadi teringat kasus di Sidoarjo belum lama ini. Yang bupati dan wakilnya konflik di permukaan. Kebetulan wabup Sidoarjo juga perempuan. Dari Gerindra juga.
Namun, kesamaan itu tidak berarti sebab konfliknya sama. Apalagi, jenis kelamin tidak menjelaskan mengapa sebuah pasangan kepala daerah berselisih.
Yang lebih menarik diperiksa adalah hubungan antara mandat pemilih. Asal partai dan pembagian kewenangan setelah mereka dilantik.
Orang bisa datang ke pilkada sebagai pasangan. Tapi, masing-masing membawa riwayat politik, jaringan pendukung, dan harapan yang berlainan.
Bisa saja konflik itu terjadi karena keduanya merasa partai penguasa di belakangnya. Apalagi, ada pihak lain –biasanya tim sukses– yang ngompori. Umumnya dipicu soal pembagian tugas dan wewenang.
Untung saja Mas Wali Muhibbin ini lama di KPU pusat. Karena itu, ia berelasi dekat dengan para petinggi Gerindra. Mulai Ketua Harian DPP Sufmi Dasco sampai mantan Sekjen Ahmad Muzani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: