Otonomi atau Ketergantungan?: Transformasi Musisi Senior di Platform TikTok
ILUSTRASI Otonomi atau Ketergantungan?: Transformasi Musisi Senior di Platform TikTok.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PERNAHKAH kita membayangkan para ikon pop yang memukau panggung musik Indonesia di era 1970 hingga 1980-an kini menghabiskan masa tuanya di depan layar ponsel, bernyanyi sembari menunggu virtual gifts di TikTok? Fenomena itu belakangan kerap kita jumpai di lini masa, memperlihatkan bagaimana para pekerja senior yang tersingkir dari pasar tenaga kerja formal menemukan kembali ruang untuk mendulang rezeki dan merengkuh pengakuan publik secara mandiri.
Di permukaan, pemandangan tersebut tampak seperti sebuah solusi kreatif, alternatif yang membebaskan individu dari kaku serta kejamnya jam kerja konvensional.
Para musisi lansia itu seolah memegang kendali penuh atas cara mereka bertahan hidup di usia senja, memanfaatkan teknologi untuk merangkul audiens lintas generasi tanpa harus bergantung pada belas kasihan industri rekaman konvensional yang dahulu memiliki potensi dalam mengeksploitasi bakat mereka.
BACA JUGA:Kebon Otonomi
Namun, di balik layar ponsel dan keramahan para penonton di kolom komentar, fenomena itu menyimpan kontradiksi yang jauh lebih pelik. Sekilas, aktivitas tersebut memang menyerupai bentuk perlawanan atau alternatif dari upah pekerjaan di dunia hiburan yang sudah tidak sebanyak sebelumnya.
Akan tetapi, para musikus lansia itu tetap sepenuhnya bersandar pada korporasi teknologi raksasa yang serbadigital, sistem monetisasi, dan algoritmanya dirancang bukan untuk menyejahteraan seniman, melainkan untuk memaksimalkan keuntungan pemilik platform.
Pertanyaan mendasarnya kemudian muncul: apakah transformasi dari ikon panggung masa lalu menjadi penghibur di layar digital itu mampu menjawab persoalan mendasar tentang bagaimana kita bisa lepas dari cengkeraman kapitalisme? Ataukah ia justru wujud paling mutakhir dari bentuk eksploitasi baru?.
Untuk menjawab teka-teki itu, kita tidak bisa sekadar melihat permukaan teknologi sebagai alat yang netral. Kita perlu menelusuri bagaimana sistem ekonomi global telah bergeser. Dalam diskursus sosiologi ekonomi dan studi media, transformasi itu berkaitan erat dengan cara kapitalisme memperluas jangkauannya ke dalam setiap detik kehidupan manusia.
Jika pada masa lalu eksploitasi berpusat di tempat bekerja fisik dengan komoditas yang berwujud, hari ini kapitalisme merangsek masuk ke ranah afeksi, memori, komunikasi, dan relasi sosial.
Ketika kita membedah praktik live streaming para penyanyi senior melalui kacamata teori ekonomi politik komunikasi, khususnya pemikiran teoretis yang dijabarkan oleh Christian Fuchs mengenai digital labour, menjadi sangat jelas mengapa panggung digital itu bukanlah bentuk pembebasan.
Fuchs (2021) dalam bukunya, Digital Capitalism: Media, Communication and Society, berargumen secara konsisten bahwa internet di bawah cengkeraman kapitalisme bukanlah ruang bebas tanpa kelas, melainkan medan akumulasi kapital yang sangat rakus.
Setiap detik interaksi, setiap klik, setiap komentar, dan setiap pembelian virtual gift memproduksi nilai tambah yang sebagian besar disedot oleh korporasi pemilik platform, sedangkan sang pekerja kreatif di ujung layar hanya menerima remah-remah komisi yang tidak menentu.
Lebih jauh lagi, Fuchs menyoroti konsep kerja digital tanpa upah atau free digital labour. Dalam kasus penyanyi lansia, eksploitasi itu bekerja berlapis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: