Retorika Ketahanan Pangan dan Sunyinya Suara Petani di Akar Rumput

Retorika Ketahanan Pangan dan Sunyinya Suara Petani di Akar Rumput

Tim peneliti saat riset lapang dan berdialog langsung dengan para pengurus Kelompok Tani CIMINDI Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.-Dokumen Pribadi-


Anita Agustina Wulandari *)--

Di atas kertas kebijakan nasional, istilah "ketahanan pangan" selalu berbunyi gagah. Pemerintah menggelontorkan subsidi pupuk, membagikan alat dan mesin pertanian (alsintan) canggih, hingga menggelar program edukasi sekolah tematik. Namun, jika kita mau sedikit menurunkan pandangan ke tingkat akar rumput, ke tengah galengan sawah dan obrolan di teras rumah petani, ceritanya seringkali jauh berbeda. Ada celah (gap) yang lebar antara program yang dirancang di atas meja birokrasi dengan realitas dinamika komunikasi para petani.

Potret ini terekam jelas ketika saya melakukan riset lapang dan berdialog langsung dengan para pengurus Kelompok Tani CIMINDI Desa Cinyawang, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dari percakapan hangat yang berlangsung hampir satu setengah jam, terungkap sebuah narasi otentik: bagaimana komunikasi partisipatif warga basis bekerja, terhambat, lalu mencoba bertahan di tengah perubahan zaman?

Regenerasi "Bongkar-Pasang" dan Tantangan Manajerial

Kelompok Tani CIMINDI bukan kelompok kemarin sore. Jejaknya sudah ada sejak era akhir 1980-an atau 1990-an. Namun, struktur kepengurusannya baru saja mengalami perombakan besar pasca meninggalnya ketua terdahulu, Alm. Bapak Haji Jenal Arifin. 

Transisi ini memunculkan potret nyata kesederhanaan manajerial petani kita. Seorang pengurus dengan jujur mengaku, "Saya ini tidak sekolah, tidak punya ijazah, awalnya ingin jadi anggota biasa saja biar tinggal nunggu berita." Namun, demi berjalannya roda organisasi, mereka saling menopang. Mengisi posisi sekretaris dan bendahara walau tanpa latar belakang administrasi formal, berpijak pada asas kepemilikan garapan sawah dan dokumen Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).

BACA JUGA:Kebun Sekolah Ajarkan Anak Menghargai Petani di Hari Tani Nasional 2026

BACA JUGA:RSI dan USU Dorong Penguatan Kelembagaan Petani Sawit Menuju Koperasi Korporat Mandiri di Medan

Sayangnya, kondisi kepengurusan saat ini yang "baru belajar merangkak" diperberat oleh pola komunikasi internal yang belum masif. Pertemuan rutin yang dulunya terjadwal kini berubah menjadi komunikasi yang bersifat spontan atau sekadar memanfaatkan grup WhatsApp. Padahal, tidak semua petani senior akrab dengan gawai. Kerap kali HP tertinggal di rumah, atau lelah fisik akibat seharian bertani membuat koordinasi tatap muka menjadi langka.

Mismatch Bantuan: Mesin Kebesaran dan Pupuk Terlambat

Dari kacamata komunikasi pembangunan, persoalan terbesar yang dihadapi petani seringkali bukan kurangnya bantuan, melainkan ketidaksesuaian (mismatch) antara bantuan pemerintah dengan kebutuhan riil di lapangan. Di CIMINDI, cerita ini nyata. Kelompok tani pernah menerima bantuan mesin tanam dan traktor. Namun, mesin tanam tak bisa dipakai karena kondisi genangan air sawah lokal yang terlalu dalam. Pompa air bantuan pun berkapasitas terlalu besar, tidak cocok dengan kontur lahan sehingga akhirnya harus "dilempar" atau dipinjamkan ke kelompok lain.

Begitu pula dengan program Pupuk Organik Cair (POC) dan sosialisasi pertanian organik. Pemerintah gencar mengkampanyekan penyelamatan kesuburan tanah lewat bahan organik. Namun, para petani mengeluhkan keterlambatan distribusi: “pupuk baru datang saat tanaman padi sudah hampir matang dan selesai dipupuk”. Selain itu, petani terbiasa dengan hasil instan pupuk kimia (Urea). Mengubah perilaku bertani dari kimia ke organik membutuhkan pendampingan yang intensif dan telaten dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), bukan sekadar bagi-bagi barang bantuan lalu ditinggal pergi.

BACA JUGA:Petani Kopi Vietnam yang Mulai Tergiur Durian: Pingin Kaya, Pilih Raja Buah

BACA JUGA:Mereka Belum Merdeka: Petani Muda Minim Dukungan, Musim Panen Tak Selalu Menguntungkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: