Blue Fire Tidak Lagi Wajib di Kawah Ijen
ILUSTRASI Blue Fire Tidak Lagi Wajib di Kawah Ijen.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Karena itu, masa depan Ijen dapat diarahkan menjadi destinasi geowisata kelas dunia. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat blue fire, tetapi juga mengikuti perjalanan memahami gunung api, sulfur, sejarah pembentukan kawasan, keanekaragaman hayati, konservasi, hingga kehidupan masyarakat.
Dengan konsep tersebut, pengalaman wisatawan berubah. Mereka tidak sekadar mengatakan, ”saya sudah melihat api biru,” tetapi dapat mengatakan, ”saya telah memahami Ijen”.
Potensi kedua adalah Ijen sebagai ruang pembelajaran. Kawasan Ijen sesungguhnya merupakan laboratorium alam terbuka. Geologi dapat dipelajari di sana. Kimia dapat dijelaskan melalui fenomena sulfur.
Biologi dapat dikaji melalui ekosistem pegunungan. Geografi dapat dipelajari melalui bentang alam vulkanik. Pendidikan lingkungan, mitigasi bencana, konservasi, bahkan ekonomi masyarakat dapat dipelajari melalui kehidupan nyata di sekitar Ijen.
Bayangkan apabila sekolah-sekolah dari berbagai daerah menjadikan Ijen sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas.
Siswa tidak hanya membaca buku tentang gunung api, tetapi juga melihat langsung bagaimana sebuah gunung bekerja dan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan lingkungan vulkanik.
Dengan demikian, Ijen bukan hanya tujuan wisata, melainkan juga kelas tanpa dinding dan atap.
Potensi ketiga adalah budaya. Jangan sampai wisatawan datang ke Ijen, melihat kawah, mengambil foto, kemudian pulang tanpa mengenal manusia yang hidup di sekitarnya.
Salah satu kekayaan Ijen justru terletak pada kehidupan masyarakat, termasuk para penambang sulfur yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap sosial kawasan tersebut. Termasuk ketika mereka kemudian berangsur beralih menjadi pendorong gerobak bagi wisatawan.
Di balik bongkahan sulfur terdapat cerita tentang kerja keras, ketangguhan, ekonomi keluarga, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan alam. Cerita tersebut dapat menjadi bagian penting dari interpretasi wisata Ijen.
Pariwisata masa depan harus mampu mengubah masyarakat dari sekadar objek wisata menjadi subjek dan pelaku utama pariwisata. Produk UMKM, kuliner, kopi, kerajinan, seni, cerita rakyat, homestay, pemandu lokal, hingga paket wisata berbasis masyarakat dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Ijen.
Potensi keempat adalah keunggulan daerah. Ijen bukan hanya satu objek wisata. Ijen dapat menjadi identitas strategis bersama Banyuwangi dan Bondowoso.
Keberadaan Ijen seharusnya memberikan efek ekonomi yang lebih luas: memperpanjang lama tinggal wisatawan, membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas UMKM, memperkuat produk lokal, dan mendorong lahirnya industri kreatif.
Ukuran keberhasilan Ijen tidak hanya dihitung dari berapa banyak wisatawan yang pernah naik ke kawah. Pertanyaan menggelitiknya adalah: berapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari keberadaan Ijen?
Berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan? Berapa banyak produk lokal yang berkembang? Berapa banyak pengetahuan baru yang lahir dari Ijen?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: