Pertarungan Makna Kolonialisme: Catatan dari Den Haag
ILUSTRASI Pertarungan Makna Kolonialisme: Catatan dari Den Haag.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Mengambil jalan pintas masalah dengan memandang naif politik kolonialisme gaya baru bukanlah pilihan.
Hari ini, hadirnya teknologi baru seperti artificial intelligence yang dikelola segelintir big tech industries, kebijakan tarif proteksionis Amerika Serikat, dan tren meningkatnya politik sayap kanan di Eropa adalah sedikit contoh besar yang berpotensi membangkitkan kembali variabel logika kolonial terselubung.
Hantu itu kembali gentayangan. Adalah suatu kebodohan jika kita memilih menyerah dalam arena pertarungan itu.
Kepala Tegak di Arena
Perasaan-perasaan yang timbul di tengah publik akibat berbagai peristiwa besar selalu menyediakan lahan subur bagi upaya pembingkaian dan pengintepretasian, untuk memisahkan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam garis lintang sejarah. Dari garis pemisahan itu, keputusan politik diambil, struktur dan kultur masyarakat, lembaga, maupun negara lalu dituntut untuk mengadaptasi bentuk normal baru.
Namun, keputusan menarik garis dan menentukan batas demarkasi tidak dilahirkan dari perasaan, baik kolektif maupun individual. Keputusan itu dikontestasikan melalui formulasi pikiran.
Perasaan memang mengakumulasi momentum, tetapi pemikiranlah yang kemudian dipertarungkan untuk mencapai makna bersama. Pertanyaannya, siapa yang berhak menjadi wasit? Sebab, sejarah tidak pernah berwarna hitam dan putih.
Politik dan geopolitik memang selalu adalah sebuah arena pertarungan makna. Dalam kamus kolonialisme, kursnya adalah sumber daya dan ingatan. Siapa pun yang mampu mendekonstruksi ingatan publik, terutama setelah peristiwa besar, dan mempertahankan kekuasaan atas sumber daya, merekalah pemenangnya.
Di tengah dunia yang hari ini terus berkembang, selalu penuh gejolak dan kian tanpa batas, adalah suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk menyadari adanya lanskap dan panggilan baru di tengah arena dunia yang tidak begitu banyak berubah. Cukup penting untuk sadar bahwa pertarungan itu tidak pernah tuntas. Kita hanya harus punya kepala tegak. (*)
*) Aryo Seno Bagaskoro adalah politikus muda PDI Perjuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: